Sudah kulewati masa dimana tak hentinya ku bertanya.Tentang diriku, keluargaku, orang-orang disekitarku, dan hal lainnya tentang kehidupan yang sementara. Masa berat itu mungkin sudah berlalu. Tapi bekasnya tak juga mau punah dari sudut hatiku. Aku masih merasa sendiri. Aku masih merasa bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Aku rapuh. Walau setiap orang memandangku sebagai yang perkasa di muka bumi. Tapi, satu yang membuatku kembali bangkit. Satu hal.
Waktu terlewati begitu saja saat aku terduduk sendiri memandang langit. Tak hentinya membasahi pipiku yang sudah sejak tadi kehilangan ronanya. Langit pun tak hentinya menatapku sendu tak tega. Tapi, aku tak tahu lagi apa yang akan kulakukan. Toh, apapun yang kulakukan tidak ada gunanya. Tulisan-tulisanku akan begitu saja dianggap tidak menarik, tidak mendalam, hingga membosankan. Begitupula postur tubuhku yang dari hari ke hari makin menggelembung karena ribuan kalori masuk tanpa ampun. Tak hanya itu, suara hingga mimik wajahku seakan tak berguna lagi di panggung hiburan. Setiap orang tak lagi menantikanku. Kini, satu-satunya hal yang kuyakin bisa dilakukan hanya ini, memandang langit sambil berharap keajaiban tiba-tiba datang menyapa.
 |
| source: riezstories.wordpress.com |
Beberapa waktu lalu, aku mencoba membaginya pada sahabat. Entah ia memang sahabatku atau tidak, aku agak tidak peduli. Yang terpenting adalah aku dapat membagi tumpukan perasaan sakit ini. Seperti biasa, ia hanya mencoba menghibur kadang menyemangati. Cukup melegakan. Tapi, perasaan itu tak juga mangkir dari hati. Malah hari demi hari kulewati makin terasa buruk. Aku diam tepekur menatap layar kaca telepon genggamku. Ingin rasanya membaginya lagi pada salah satu kontak sahabat di telepon, tapi rasa tak enak memburu tiap detik. Akhirnya, telepon itu meredupkan cahayanya dan aku kembali duduk di balkon sambil meratapi nasibku kepada langit.
Ini
aku yang terombang ambing ditengah kerasnya debur ombak, Ini aku yang tengah
kebingungan menatap peta dengan terus menebak, Ini aku yang mencoba mengalahkan
takdir tapi tetap kalah telak, Ini aku yang mencoba bertahan ditengah jiwa yang
sesak dan Inilah aku yang bimbang dan tak tahu akan seperti apa kelak
Selamatkan
aku jika Kau berkenan…
Lihatlah manusia yang makin membengkak kantung matanya ini, tak juga merasa lebih baik tiap kali bercerita atau hanya sekedar menatap langit. Hingga hari itu, hari yang paling kuingat dimana aku kembali pada hakikatku sebagai manusia. Walau memang kejadian menyakitkan itu juga perlahan harus kuceritakan.
Kejadian seminggu lalu di ruang rapat itu amat membekas di memoriku. Pak Derry sudah duduk di kursinya menungguku, "Kemana saja, Rin? Bapak sudah kirim email tentang skripmu tapi tak juga ada balasan."
Aku masih terengah menanjak lewat tangga ke lantai dimana pak Derry berada. Aku pun tertatih menjawab, "Iya, Pak. Sekarang akan saya jelaskan." Aku mengambil beberapa kertas di dalam tasku. Kertas itu sebenarnya sudah kusiapkan sejak beberapa hari yang lalu. Tapi, nyali tak juga membesar untuk memberikan itu pada pak Derry.
"Aduh, Rin! Sudah berapa tahun sih kamu kerja disini? Tetap saja tak ada kemajuan! Saya bahkan bosan membaca kata demi kata di paragraf pertama. Kamu butuh liburan. Tenangkan pikiranmu!" Bundelan kertas itu mendarat di atas meja persis di depanku. Aku kelu mengambil kertas itu lalu pak Derry begitu saja pergi dari ruangannya. Aku mengikutinya.
Itu masih cerita satu, dimana karyaku tak lagi disukai editorku sendiri. Lain lagi dengan yang terjadi di panggung sandiwara tempat aku bertemu dengan orang yang sama ganasnya dengan pak Derry. Namanya kak Sandy, dia adalah sutradara pementasan teater satu bulan mendatang.
"Rin, kakak mau bicara sama kamu abis latihan koreo ini, ya. Temui kakak di ruang kostum." Kak Sandy menepuk bahuku pelan kemudian berlalu menghilang dari pandanganku. Aku pun menemuinya 30 menit kemudian.
"Hai, Rin! Sini duduk dulu." Kak Sandy menyapa hangat. Masih hangat. Belum panas.
"Begini, Rin. Akhir-akhir ini, kamu semakin tidak maksimal saat latihan. Kamu tidak hafal skrip, sering salah koreo, hingga suara sumbang. Ada apa sih?" Kak Sandy menatapku tajam. Kehangatan yang tadi menyambutku perlahan hilang. Lidahku kelu ingin menjawab.
"Kakak sudah memutuskan. Maaf jika sepihak. Kakak tidak bisa melihat tokoh utama tidak siap begini. Nasya akan menggantikan kamu. Kamu akan menggantikan posisi Nasya. Kira-kira hanya hadir di dua scene. Jadi, akan lebih mudah untukmu." Nasya? Hey, yang benar saja! Dia adalah aktris yang selama ini bersaing denganku memerebutkan peran berharga ini. Saat kemenangan di depan mata semua seakan lenyap ditiup angin.
"Tapi, Kak..."
"Tidak ada tapi, Rin. Kakak sudah membuat keputusan. Tenang, kamu tetap bagian dari teater ini dan sampai kapanpun kamu masih punya kesempatan lain asal kamu berusaha lebih maksimal. Oke?" Sama seperti pak Derry, kak Sandy begitu saja meninggalkanku yang terpaku akan nasib sial yang menimpaku bertubi-tubi.
Sejak dua kejadian itu, aku semakin sering menghabiskan waktu di kamar kost. Menghidupkan televisi, mencari program acara yang menarik, dan biskuit; roti; juga kerupuk siap di sekitar tubuhku. Aku tak hentinya makan. Tiap kali ingat tentang pementasan teater itu, akan ada satu kaleng kecil kacang yang habis. Tiap kali melihat isi emailku, akan ada tiga sampai lima bungkus roti kulahap. Empat hari terpuruk dalam situasi seperti itu membuat timbangan tubuhku keberatan karena bobotku bertambah 7 kg. Aku makin terpuruk. Akhirnya, terjadilah aktivitas malam itu. Dimana aku menatap langit sambil tak hentinya mengguyur pipiku sendiri dengan air mata.
Malam-malam itulah yang buatku menjadi orang terkepo sedunia. Aku mulai bertanya tentang apapun yang sejatinya bersifat sementara. Ternyata, tanpa kusadari malam-malam itu pulalah yang memaksaku dekat dengan Yang Maha Kuasa.
Aku mulai berwudhu lebih sering, mendirikan sholat di awal waktu, membaca Al-Qur'an tiada henti, hingga mengikuti berbagai pengajian yang diselenggarakan di Mesjid dekat rumahku. Aku masih memandang langit malam dengan air mata tak henti. Tapi bukan untuk mencaci kehidupanku, semata-mata kulakukan untuk mengucap harap pada-Nya, bertanya tentang apapun kebingungan yang selama ini menggerogoti isi otakku. Setiap kali selesai menengadah ke langit. Aku tiba-tiba saja merasa berbeda.
Sakit
menghujam setiap detik, bahagia kadang datang setelahnya, meluruhkan segala
goresan luka di dinding hati, lalu membungkusnya dengan senyuman
Saat
yang bersamaan, air mata menetes di tiap sela kelopak mata, menggelincir lembut
turun ke permukaan wajah yang merona, karna duka atau terlampau suka masih
tanda tanya pula
Setelahnya,
menengadah tangan dan wajah, buliran air tadi mendarat di atasnya, menatap
lembut mata yang penuh harap, menatap lembut bibir yang bergetar, terus
menyebut nama-Nya, terus membentuk sunggingan senyuman
Aku
bersyukur Tuhan…
Tak kusangka, Tuhan ternyata merindukanku yang selama ini sibuk dengan hal-hal fana dan sementara. Tuhan mengingatkanku bahwa ada yang abadi dan lebih nyata. Masa setelah kita mati, dimana akan ditentukan dimana seharusnya kita berada. Tempat terindah sepanjang masa itukah? Atau tempat yang kengeriannya tak juga dapat pernah tergambarkan oleh orang paling imajinatif manapun di dunia.
"Terimakasih, Tuhan..."
Dinda Ramayulis