Tuesday, December 22, 2015

It's You


There’s so much memories I left behind. From my childhood until now, when I already get my id card and allow to get married freely. But, then when I checked it, It’s all about you. Every moment I remember either it’s sad or happy. It’s all you. And I just realize that my life is your life, that my time has already given to you since I was a cute little baby with an empty brain and mind.
Now, you’ve gone, you’ve moved to your new life that is not mine anymore. You go with new people that are very different with me. Are you comfortable? Are you enjoying your life now? Are you happy with what you get now? Are you? We never say clearly that we hate each other or we should be separated. You just said that I deserve a better life without you that you didn’t even know what better looks like. You also said that I will be happier if I didn’t meet you anymore. You know, you are a full bullshit guy I’ve ever found. You are Mr.Know-it-all. You acted like knowing every little thing about me, whereas you don’t. I am not even happier now. Every single day without you is hardest moment in my life. I’m crying over and over again. I was dreaming about you on my sleep every night and when I’m back to the real life, I didn’t see you. I miss you, you know. I’m sad and frustrate. I’m not better at all.
Five years are a long time to me for trying to be happy without you. It’s a long time to me for finding the new one. Hot and cool guys sneak me around, ask for hanging out on the Saturday night, flirt with me one or two or more times, but then, They are just guys. I don’t even have feeling to them. I don’t even care what is going to happen in their life. The only one I care about is you. You. You again.
Now, I don’t know how to reach you. I don’t know if you still want me like you did. I try to believe in you for the last five years, trying to find what better and happier means in your dictionary. Are they different with mine? But, I just failed every time I try. I got my eyes wet and my door locked then just hearing hopeless girl’s crying.
The only thing I have is just memories that can connect you and me. Sad or happy memories, I don’t care. If it’s all about you, it will look same in my eyes. My memories are my best friends now, even my boyfriend, my partner, my mate. Remembering you, thinking about you, are my favorite activities. That they are all are the only things that makes me better and happier. Probably, you might forget some words in you last words for me five years ago. You should say, “You will be better and happier without me, but still keeping our memories on your mind,”

Friday, December 11, 2015

Brand New Me

It's hard to change to be something different. Totally different. It's hard to face the consequences after changing. Every people's comment either it's good or bad. Their way looking at me like the weird one til the happiest one. Thinking about the old me also. Missing the old me sometimes. It's truly hard. Really. 

But, then i remember the reason i change. It's all not just because i feel bored with the long hair, the ordinary dress style, and the character also. It's more than that. I wanna become someone who better than me at that time. I felt like i was useless then i want to change to be useful. Yeah, something like that. 

I know, every people or should i call the hater doesn't have to know my reason or my explaining. This is none of their business. What will i get if i tell them this? Nothing, right? 

Alright, after all, i just want to share you guys my new look. I'm very blessed and more than just happy to see the new me. With that super short bob hairstyle, the red lips, til the cute little skirt that i will always wear everyday. 

"I live for myself, for my God, i will do things that me and Him like not things what people like."

"That comments, that judges especially the negative one are just that. It doesn't affect with my life, my future, or even my afterlife. I don't give a f*ck about em."

"Changing myself and take a really new and rare step are my dreams. Now, i can see that sweetest smile ever."

"Cut that hair and become the new one. No cry, no regret, no disappointed. That hair will grow longer. Stay calm."



Monday, December 7, 2015

Lelap Selamanya




Malam telah tiba dengan tetes suara air

Menampik di atas atap
Tertahan di sela-sela bata
Tersibak dari dedaunan

Pagi kan datang mungkin dengan tetes air
Yang lebih sendu atau lebih merdu
Merayu setiap telinga yang tertidur
Membangunkan setiap mata yang terpejam

Lebih baik begini
Lelap dalam dekap
Hangat dalam sengat
Sejuk dalam peluk
Lebih baik begini
Embun tak berarti
Terang tak dinanti
Matahari tak boleh berseri

Di lelap ini, ku gambarkan suatu lukisan
Terdapat keteduhan di wajah tokohnya
Tersenyum sipu ditatap langit
Namun mata tak mungkin lupa
Tentang malam-malam kemarin
Dimana sesal dan kesal bercampur
Lalu derita dan duka bermunculan

Sudah kubilang,
Lebih baik begini
Lelap dalam dekap
Hangat dalam sengat
Sejuk dalam peluk
Dan lebih baik begini
Selamanya

Sunday, December 6, 2015

Curahan Hati si Bunga Layu



Hilang sudah indahku menurutmu
Walau berkali-kali kau tetap katakan cantik
Aku tahu itu ungkapan kedustaan
Mataku tahu tentang tatapan itu
Yang jijik dengan aroma tularan tubuhku
Matamu sepertinya sudah pandai
Seperti hidungmu
Mampu mengendus aroma tak sedap itu
Cintaku, sadarilah, betapa kutahu hinanya aku
Malam pun bercerita tentang buruk dan tak pantasnya aku
Tinggalkan lah saja, Cintaku
Aku bukan lagi berlian di dasar sungai
Aku hanyalah batu di tepi pantai
Carilah bunga yang lebih semerbak, Cintaku
Bukan bangkai sepertiku
Wanginya bisa-bisa buatmu jatuh koma
Terbanglah lagi, Cintaku
Taman di seberang atau padang di ujung jalan
Mungkin bisa jadi tempat pencarianmu
Kan kutunggu, Cintaku
Karena ku tak sabar lihat indah yang dulu nampak di diriku

Cantikku

Cantik
Dengar suara 
Yang berlomba meraba-raba
Katanya,
"Sentuhan sunyi tatapan mata
Mengusik hati yang sedang lara"

Cantik
Kalau nanti ku telah dewasa
Jemput aku dengan wibawa 
Yang sering kau sebut di sela-sela kata

Cantik
Bahagia dan kesenduan menjadi satu
Membumi bersama dalam dekapan rindu
Ah, wajahmu mengingatkanku
Akan melodi cinta yang merdu

Cantikku, 
Sambutlah aku di gerbangmu
Dengan asa yang menari-nari 
Di hati yang telah lama berdebu
Karena ditinggal sang peri

Cantikku,
Apakah kau terima persembahan ini? 
Apakah kau rela kudatangi?
Kuketuk pintunya
Kusinggahi tiap ruangnya
Lalu tinggalkan bekas
Yang bisa kau ingat dan biarkan lama disana
Atau cepat-cepat kau bersihkan

Saturday, December 5, 2015

Kabut Dibalik Matanya

Sedang bersahaja di balik pohon katanya
Dengan rindu yang mengusap wajah
Dengan sukma yang tertegun karena asa
Ia duduk disana, memandang langit tak berkedip

Sedang bercumbu di tengah hutan katanya
Biar bersatu dengan alam 
Biar burung dan dedaunan menjadi saksi
Betapa hina dirinya 

Biarlah ia lakukan apa yang diingininya
Tak mampu dilarang siapapun tak terkecuali Tuhan
Bibir Tuhan menjadi begitu tak berarti di matanya
Apalagi nasihat-nasihat orang yang tak berarti sepertiku

Dibalik matanya kutemukan arti kehidupan
Lalu sendu suaranya mengayomi sanubariku
Namun sayup matanya rintih meminta pertolongan
Hanya saja kepalanya terlalu batu 

Dia, jika boleh kupinta satu hal 
Maka kembalilah 
Maka sadarilah
Renungilah semua ketidakbiasaan dirimu 
Mungkin bisa tanyakan ke pohon, burung, dan dedaunan
Mungkin mereka kan beri satu jawaban
Mungkin tanyakan padaku, dan kuberi kepastian 
Mungkin...

Sunday, November 22, 2015

Dia

Layang-layang diterbangkan
Dan saat itulah kulihat senyumanmu
Senja datang malu-malu
Dan saat itulah kulihat tingkahmu
Burung gereja bersahutan 
Dan saat itulah kurasa bicaramu

Lalu malam disapa samar kilauan cahaya
Dan jaket jeans bergoyang tersapu angin
Sedang kepulan asap perlahan keluar dari mulutmu
Saat itulah kulihat betapa tak sempurnanya dirimu
Tapi entah, buahnya terlanjur ranum, bunganya terlanjur mekar, batangnya terlanjur tumbuh
Kurasa cinta terlanjur hadir dalam dekapan mesra sapaanmu

Saturday, November 21, 2015

Mustahil


Mungkin bagimu, itu adalah suatu kemustahilan. Namun bagiku, di alam fana ini, tak ada yang mustahil. Mimpi misalnya, ia nampak nyata di bayanganku...

Tuesday, November 10, 2015

Tinggal

Ini untuk dirinya, yang dulu pernah menetap dan tinggal. Namun, seperti biasa, pertemuan akan ada akhirnya. Dan kini pertemuan itu sampai pada garis finish. Dimana dia pergi dan kita berpisah. 
Ini untuk dirinya, yang tiba-tiba datang lalu memberi warna. Namun, seperti biasa, lalu pergi ke tempat asalnya. Dimana senyumannya lebih lepas dan bebannya terasa hilang. Kami pun berpisah tepat saat ia mengucap kata selamat tinggal yang samar. 
Ini untuk keduanya, yang ternyata baru sempat kusampaikan walau dalam bentuk tulisan. 

Because sometimes only paper will listen to you.


Sunday, October 4, 2015

The New Step

Andai saja waktu mampu berputar melawan arah, kembali ke masa dimana ku baru menatap sekitar, mungkin aku akan berpikir dua kali untuk memilih tempat selanjutnya ku bernaung. Namun, lagi-lagi penyesalan datang terakhir dan untungnya Tuhan masih membuka jalan luas untukku kembali memilih. Kini, aku mengejar kesempatan itu. Demi memperluas koneksiku pun memperluas pengetahuanku.

Baru awal, namun ku sudah rasakan seperti di rumah. Baru awal, namun ku cepat tersenyum dengan mereka. Tanpa tekanan. Tanpa rasa takut. Bisa saja selanjutnya berbeda atau akhirnya akan menyakitkan tapi setidaknya langkah ini dimulai dengan keyakinan dan senyuman. Selanjutnya, hanya tinggal harap yang kukirim jauh ke hadapan Tuhan. Semoga tetap begini sampai nanti.

Lihatlah, ini beberapa tangkapan kebahagiaan dari wajah kami. Dan beberapa bait kata yang tercipta di benak kami. Dari satu kata yang sulit digambarkan, kami buat tampilan kreatif. Dalam waktu cukup beberapa menit, kami padu padankan bakat kami. Selamat membaca!




DAKI

Oleh: Dinda R, Selviana, Athifa, dan Krisna






Aku hanyalah pengemis tua yang tak dianggap
Meminta, memohon untuk nasi walau sesuap
Untuk peluk walau hanya satu dekap
Tapi mereka benci saat bersitatap
Dengan diriku yang bak daki di sekujur tubuh yang gelap
Apalah diriku
Siapalah diriku

Masa lalu kelam membungkus hari-hariku
Terlupakan, tertinggal, terbuang
Bagai si daki yang membatu
Hingga berbekas tak kan hilang
Jikalau nanti ku bertemu denganmu
Aku tetaplah sang betina yang tak dikenang
Ditinggal bersama si bocah yang begitu malang

 Kini ku bersembunyi dibalik mantra
Yang sibuk kupoles setiap harinya
Setebal-tebalnya
Agar segala daki pun hilang sempurna
Walau kutahu, hatiku tetaplah begini, tertinggal, terbuang, terlupa

Kotor, bau, najis
Aku wanita bak daki
Terhempas celurit tajam
HAHAHA
Mataku adalah daki
Tangisku adalah daki
Darahku adalah daki
Kotor, bau, najis

Setelah semuanya, kusadar
Aku hanyalah Daki.


Friday, September 4, 2015

Jum'at Siang


Aku ingat sekali hari itu
Kau membenamkan bias cahaya terang ke kalbuku
Menahan keresahan yang sudah lahir dari saat kau menyapaku

Hari itu, lembar itu pun terbuka
Dimana pena merah muda lebih sering menari
Walau pena hitam dan abu-abu menyenggolnya tiap kali

Hari itu, aku menamaimu berlian
Karena kilaumu membuatku kagum dan bergumam
Namun sulit untuk kugenggam
Hingga hanya diam terpaku yang bisa kulakukan

Desahan angin meliuk-liuk di hari-hariku berikutnya
Membisikkan berbagai kata yang tak juga kupaham maknanya
Kadang kau tunjukkan aku artinya
Tapi tak jarang kau tinggalkan ku terpana

Hari itu adalah Jumat siang
Kau berada di dunia yang maya bersamaku
Kau memulai cakap denganku
Lalu cinta perlahan muncul disela waktuku
Tapi entah, apakah muncul juga pada dirimu?

Dinda Ramayulis

Wednesday, September 2, 2015

Kau Lupa


Awan kehitaman menutup perlahan semburat oranye wajahmu
Tetes demi tetes air bening melumatkan polesan bedak dan maskaramu
Lalu suara-suara parau menutupi pendengaranmu
Begitupula isak yang tak hentinya muncul, hilang, muncul, hilang
Dia tahu kau menelungkupkan wajahmu di bawah bantal
Dia tahu hatimu tersayat habis oleh pisau yang lebih tajam dari apapun
Dia tahu pikiranmu mulai melayang kemanapun, berfikir untuk segera mengakhiri kesedihan ini
Tapi kau tak tahu ada yang memperhatikanmu
Kau berjalan penuh gairah ke arah meja di pojok kamarmu
Kau membuka paksa laci mejamu yang sudah mulai rapuh
Lalu kau temukan alat bergagang itu
Dia masih menatapmu iba
Berharap kau tak akan menuruti nafsu sakitmu
Tapi usaha-Nya seakan percuma karena kau bahkan lebih percaya dengan makhluk terseram itu
Kau terduduk di dalam bak mandi kamar mandimu
Tidak lupa kau kunci pintunya
Kau gores dalam lenganmu
Lalu tetesan cairan merah larut dalam air bak itu
Dan Dia pun akhirnya menemukanmu di alam lain
Saat kamu meringis melihat seonggok tubuh dengan wajah duka tenggelam dalam air merah yang mengalir
Dia tertunduk, kau lemas, kini gelembung penyesalan perlahan muncul memenuhi hatimu yang tak lagi berfungsi sedemikian rupa itu
Kau lupa, bahwa saat yang lain menyakitimu ada Dia yang berusaha menyelamatkanmu

Dinda Ramayulis

Thursday, August 20, 2015

Satu Hal

Sudah kulewati masa dimana tak hentinya ku bertanya.Tentang diriku, keluargaku, orang-orang disekitarku, dan hal lainnya tentang kehidupan yang sementara. Masa berat itu mungkin sudah berlalu. Tapi bekasnya tak juga mau punah dari sudut hatiku. Aku masih merasa sendiri. Aku masih merasa bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Aku rapuh. Walau setiap orang memandangku sebagai yang perkasa di muka bumi. Tapi, satu yang membuatku kembali bangkit. Satu hal.

Waktu terlewati begitu saja saat aku terduduk sendiri memandang langit. Tak hentinya membasahi pipiku yang sudah sejak tadi kehilangan ronanya. Langit pun tak hentinya menatapku sendu tak tega. Tapi, aku tak tahu lagi apa yang akan kulakukan. Toh, apapun yang kulakukan tidak ada gunanya. Tulisan-tulisanku akan begitu saja dianggap tidak menarik, tidak mendalam, hingga membosankan. Begitupula postur tubuhku yang dari hari ke hari makin menggelembung karena ribuan kalori masuk tanpa ampun. Tak hanya itu, suara hingga mimik wajahku seakan tak berguna lagi di panggung hiburan. Setiap orang tak lagi menantikanku. Kini, satu-satunya hal yang kuyakin bisa dilakukan hanya ini, memandang langit sambil berharap keajaiban tiba-tiba datang menyapa. 

source: riezstories.wordpress.com
Beberapa waktu lalu, aku mencoba membaginya pada sahabat. Entah ia memang sahabatku atau tidak, aku agak tidak peduli. Yang terpenting adalah aku dapat membagi tumpukan perasaan sakit ini. Seperti biasa, ia hanya mencoba menghibur kadang menyemangati. Cukup melegakan. Tapi, perasaan itu tak juga mangkir dari hati. Malah hari demi hari kulewati makin terasa buruk. Aku diam tepekur menatap layar kaca telepon genggamku. Ingin rasanya membaginya lagi pada salah satu kontak sahabat di telepon, tapi rasa tak enak memburu tiap detik. Akhirnya, telepon itu meredupkan cahayanya dan aku kembali duduk di balkon sambil meratapi nasibku kepada langit.

Ini aku yang terombang ambing ditengah kerasnya debur ombak, Ini aku yang tengah kebingungan menatap peta dengan terus menebak, Ini aku yang mencoba mengalahkan takdir tapi tetap kalah telak, Ini aku yang mencoba bertahan ditengah jiwa yang sesak dan Inilah aku yang bimbang dan tak tahu akan seperti apa kelak
Selamatkan aku jika Kau berkenan…

Lihatlah manusia yang makin membengkak kantung matanya ini, tak juga merasa lebih baik tiap kali bercerita atau hanya sekedar menatap langit. Hingga hari itu, hari yang paling kuingat dimana aku kembali pada hakikatku sebagai manusia. Walau memang kejadian menyakitkan itu juga perlahan harus kuceritakan.

Kejadian seminggu lalu di ruang rapat itu amat membekas di memoriku. Pak Derry sudah duduk di kursinya menungguku, "Kemana saja, Rin? Bapak sudah kirim email tentang skripmu tapi tak juga ada balasan." 

Aku masih terengah menanjak lewat tangga ke lantai dimana pak Derry berada. Aku pun tertatih menjawab, "Iya, Pak. Sekarang akan saya jelaskan." Aku mengambil beberapa kertas di dalam tasku. Kertas itu sebenarnya sudah kusiapkan sejak beberapa hari yang lalu. Tapi, nyali tak juga membesar untuk memberikan itu pada pak Derry.

"Aduh, Rin! Sudah berapa tahun sih kamu kerja disini? Tetap saja tak ada kemajuan! Saya bahkan bosan membaca kata demi kata di paragraf pertama. Kamu butuh liburan. Tenangkan pikiranmu!" Bundelan kertas itu mendarat di atas meja persis di depanku. Aku kelu mengambil kertas itu lalu pak Derry begitu saja pergi dari ruangannya. Aku mengikutinya. 

Itu masih cerita satu, dimana karyaku tak lagi disukai editorku sendiri. Lain lagi dengan yang terjadi di panggung sandiwara tempat aku bertemu dengan orang yang sama ganasnya dengan pak Derry. Namanya kak Sandy, dia adalah sutradara pementasan teater satu bulan mendatang. 

"Rin, kakak mau bicara sama kamu abis latihan koreo ini, ya. Temui kakak di ruang kostum." Kak Sandy menepuk bahuku pelan kemudian berlalu menghilang dari pandanganku. Aku pun menemuinya 30 menit kemudian. 

"Hai, Rin! Sini duduk dulu." Kak Sandy menyapa hangat. Masih hangat. Belum panas.
"Begini, Rin. Akhir-akhir ini, kamu semakin tidak maksimal saat latihan. Kamu tidak hafal skrip, sering salah koreo, hingga suara sumbang. Ada apa sih?" Kak Sandy menatapku tajam. Kehangatan yang tadi menyambutku perlahan hilang. Lidahku kelu ingin menjawab.
"Kakak sudah memutuskan. Maaf jika sepihak. Kakak tidak bisa melihat tokoh utama tidak siap begini. Nasya akan menggantikan kamu. Kamu akan menggantikan posisi Nasya. Kira-kira hanya hadir di dua scene. Jadi, akan lebih mudah untukmu." Nasya? Hey, yang benar saja! Dia adalah aktris yang selama ini bersaing denganku memerebutkan peran berharga ini. Saat kemenangan di depan mata semua seakan lenyap ditiup angin.
"Tapi, Kak..."
"Tidak ada tapi, Rin. Kakak sudah membuat keputusan. Tenang, kamu tetap bagian dari teater ini dan sampai kapanpun kamu masih punya kesempatan lain asal kamu berusaha lebih maksimal. Oke?" Sama seperti pak Derry, kak Sandy begitu saja meninggalkanku yang terpaku akan nasib sial yang menimpaku bertubi-tubi.

Sejak dua kejadian itu, aku semakin sering menghabiskan waktu di kamar kost. Menghidupkan televisi, mencari program acara yang menarik, dan biskuit; roti; juga kerupuk siap di sekitar tubuhku. Aku tak hentinya makan. Tiap kali ingat tentang pementasan teater itu, akan ada satu kaleng kecil kacang yang habis. Tiap kali melihat isi emailku, akan ada tiga sampai lima bungkus roti kulahap. Empat hari terpuruk dalam situasi seperti itu membuat timbangan tubuhku keberatan karena bobotku bertambah 7 kg. Aku makin terpuruk. Akhirnya, terjadilah aktivitas malam itu. Dimana aku menatap langit sambil tak hentinya mengguyur pipiku sendiri dengan air mata. 

Malam-malam itulah yang buatku menjadi orang terkepo sedunia. Aku mulai bertanya tentang apapun yang sejatinya bersifat sementara. Ternyata, tanpa kusadari malam-malam itu pulalah yang memaksaku dekat dengan Yang Maha Kuasa. 

Aku mulai berwudhu lebih sering, mendirikan sholat di awal waktu, membaca Al-Qur'an tiada henti, hingga mengikuti berbagai pengajian yang diselenggarakan di Mesjid dekat rumahku. Aku masih memandang langit malam dengan air mata tak henti. Tapi bukan untuk mencaci kehidupanku, semata-mata kulakukan untuk mengucap harap pada-Nya, bertanya tentang apapun kebingungan yang selama ini menggerogoti isi otakku. Setiap kali selesai menengadah ke langit. Aku tiba-tiba saja merasa berbeda. 

Sakit menghujam setiap detik, bahagia kadang datang setelahnya, meluruhkan segala goresan luka di dinding hati, lalu membungkusnya dengan senyuman
Saat yang bersamaan, air mata menetes di tiap sela kelopak mata, menggelincir lembut turun ke permukaan wajah yang merona, karna duka atau terlampau suka masih tanda tanya pula
Setelahnya, menengadah tangan dan wajah, buliran air tadi mendarat di atasnya, menatap lembut mata yang penuh harap, menatap lembut bibir yang bergetar, terus menyebut nama-Nya, terus membentuk sunggingan senyuman
Aku bersyukur Tuhan…

Tak kusangka, Tuhan ternyata merindukanku yang selama ini sibuk dengan hal-hal fana dan sementara. Tuhan mengingatkanku bahwa ada yang abadi dan lebih nyata. Masa setelah kita mati, dimana akan ditentukan dimana seharusnya kita berada. Tempat terindah sepanjang masa itukah? Atau tempat yang kengeriannya tak juga dapat pernah tergambarkan oleh orang paling imajinatif manapun di dunia. 

"Terimakasih, Tuhan..." 

Dinda Ramayulis