Saturday, March 21, 2015

PERCAYA


Katanya kehidupan ini teka – teki
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi
Semuanya acak, tak tersusun rapi
Semuanya dibalut indah dengan kain misteri
Membuat manusia menerka – nerka, menebak – nebak, mencari – cari

Tapi, katanya kehidupan ini sudah direncanakan
Tertulis rapi di setiap bait catatan kehidupan
Lalu, untuk apa dipikirkan?
Untuk apa terus bertanya kapan?
Bukankah percaya sudah cukup menjadi alasan?
Alasan untuk tak meragukan masa depan

Kadang, manusia sibuk bertanya – Tanya
Begitupun aku, kamu, dia, dan mereka
Bertanya tentang setiap hal yang berbeda dari keinginannya
Padahal kita tak tahu apa – apa
Sang Pemilik Kehidupan lah yang mengetahui segalanya
Lagi – lagi, percaya
Cukup, percaya
Pada - Nya
  

Monday, March 16, 2015

Dunia Pura - Pura

Disini, di dunia yang penuh ke-pura - pura an.

Bisa saja seseorang yang sedang menemani malammu atau yang memang selalu menemani malam - malammu dengan berjuta kalimat di setiap pesannya hanya terpaksa melakukan itu. Tak kuat melihatmu terluka deminya. Lantas ia sukarela membalas pesan - pesan mu dengan senyuman penuh pa-k-sa-an

Disini, di dunia yang penuh ke- pura - pura an.

Ada pula orang - orang yang berpura - pura mendekatimu, memberikan setiap perhatiannya padamu, dengan maksud yang berbeda. Di balik itu, ada kebencian yang meradang. Kebencian yang menginginkan melihat dirimu terluka. Saat ia telah berhasil merebut hatimu. Maka ia menjalankan rencana selanjutnya. Meninggalkanmu. Mencampakkanmu.

 Disini, di dunia yang penuh ke- pura - pura an.

Seseorang berpura - pura mencintaimu, menaruh hati padamu, memperhatikanmu. Ia tak benci padamu tak juga kasian padamu. Ia bahkan nampak terluka saat melihatmu terluka. Ia juga memasang wajah sendu saat melihatmu menangis pilu. Ia tak benci tak juga kasian padamu. Ia hanya punya suatu kepentingan yang mengharuskannya mendekatimu.

 Disini, di dunia yang penuh ke- pura - pura an.

Semua orang dapat memilih perannya masing - masing. Mereka bisa menjalankan peran itu sesuai yang tertulis. Namun ia juga mampu memutar balikkan peran itu dan menjadikannya nampak sempurna di matamu. Tak ada yang salah. Tak ada yang aneh.

Disini, di dunia yang penuh ke- pura - pura an.

Kamu mungkin adalah orang terbodoh yang satu - satunya percaya pada segala kepura-puraan dunia dan isinya. Kamu mungkin adalah orang yang paling malang. Karena kamu selalu mempercayai hal yang ternyata sebaliknya. Dusta. Palsu. 

Disana, di suatu tempat.
 
Kamu mungkin sedang menyadari sesuatu saat membaca ini. Menyadari kalau selama ini ada yang berpura - pura, ada yang menempelkan topeng - topengnya begitu rekat hanya untuk memperdayaimu. Kamu telah tersadar bukan? Kalau kamu amat bodoh? Iya?

Disini, di dasar hati yang kebiruan.

Iya, aku baru saja menyadarinya...


16 Maret 2015
Dalam kesadaran yang luar biasa utuh
Dinda Ramayulis  


Saturday, March 14, 2015

KELIRU


Kemarin aku bertemu denganmu
Di tempat biasa, di waktu biasa
Aku sudah hafal jadwalmu
Kapan akan makan disana
Atau hanya sekadar mengobrol melepas rindu

Kau tersenyum saat melihatku
Kali ini kau mendahuluiku
Aku tersipu
Hanya bisa berdiri kaku menatapmu
Kau sungguh menawan

Hari ini aku siap menyambutmu
Di tempat biasa, di waktu biasa
Aku sudah menahan malu-ku
Kali ini aku akan jadi yang pertama menyapa

Saat datang, tak kusangka langit tak memberi restu
Kau tak ada disana
Kursi – kursi itu hampa tanpa sedikitpun bayanganmu
Kau… dimana?

Hari esok tiba, menyapaku sendu
Di tempat biasa, di waktu biasa
Aku yakin dirimu menunggu
Dengan tatapanmu yang membuat pipiku makin merona

Ah, ternyata aku keliru
Kau tak sedang menungguku
Kau sibuk bersitatap dengan bunga barumu
Pipinya merona, ia dibuat tersipu
Dengan setiap rayuanmu itu

Lusa, waktu yang indah untuk mulai melupakanmu
Di tempat biasa, di waktu biasa
Aku sungguh tersadar
Kau memang tak pernah menungguku

14 Maret 2015
Di tengah tatapan yang kosong,
di sela usapan jemari menghapus tetesan air mata,
dan di antara senyum paksaan
Dinda Ramayulis  

Saturday, March 7, 2015

WAKTU KU TERLELAP

Pagi itu, wajah sendu menemani 
Aku terbangun mengusap mata dan memulai hari
Tak ada yang indah tak ada yang menggugah hati
Mencoba mencari, mungkin saja ia disini

Tenanglah bukan dirimu lagi yang kunanti 
Aku sudah lepaskan setiap asa yang menghantui
Kusadar betapa sulit menari diatas tali
Apalagi melangkah hanya dengan jempol kaki

Setelah pagi, siang menabik
Dengan semangat membara matahari
Yang terus memaksaku berseri 

Aku tertegun melihat dirimu menanti
Lagi - lagi kamu, ah aku benci
Tak kusadari bayanganku sampai disela kaki 
Kaki - kaki yang dulu pernah meninggalkanku pergi

Kenapa kau kembali?
Apa yang kau cari?
Otakku terus menagih jawaban
Tetaplah disini
Hilangkan rasa sepi
Hatiku terus mengucap permintaan

Bulan masih berseri 
Ditengah singgasana malam yang hampir pergi
Aku dibanguni 
Ah, cuma mimpi
 

 7 Maret 2015
Di sela kerinduan yang tertahan
Dinda Ramayulis

Friday, March 6, 2015

Maafkan Aku Ibu (edisi 1)


Masih teringat olehku kejadian dua hari lalu, kejadian yang telah merenggut semua rencana masa depanku. Aku terduduk lemas pagi ini diatas kasur setengah – setengah ku. Ya, setengah empuk setengah keras. Aku masih melamun, sesekali menghela napas yang entah kenapa pagi ini lebih banyak dibanding kemarin. Masih melamun, tiba – tiba suara asing membangunkanku. Tentu saja asing, aku hidup di ruangan dengan puluhan orang lainnya yang tak kukenali sama sekali. Cuma satu suara yang hingga saat ini bertahan di benakku. Tentu saja aku mengenalinya, suara ibu.
“Rana, ayo sarapan. Kamu belum makan loh sejak tadi malam”. Ibu mendekat kearahku, menatapku sejenak dengan wajah sendunya yang penuh ketulusan. Aku masih duduk, diam, sambil sesekali menangkap sosoknya disudut mataku. “Rana… ayo sayang”. Kali ini ibu duduk disampingku lalu merangkulku. Mataku buram, dadaku mulai sesak, dan…. Air mataku pun menetes, ibu memelukku. Entah keras atau tidak, tangisanku mampu membuat suara asing di ruangan itu hilang. Orang – orang asing itu lalu diam sejenak, beberapa dari mereka yang sejak tadi bermain bahkan berhenti dan menatap aku dan ibu. Ibu sibuk memeluk dan mengusap punggungku. Dadaku masih sesak bahkan makin sesak. “Maafkan aku ibu…” aku berbisik.

HIM


I know I will meet him again
I know I will realize again
I know I will feel down again
I know every sad thing that will happen when I keep looking at him, 
when I keep feeling this way

Loving him is the most incredible thing
Knowing him and chatting with him are the happiest things
But when realizing that he has saved another flower
It breaks my heart, breaks me