Ini untuk dirinya, yang tiba-tiba datang lalu memberi warna. Namun, seperti biasa, lalu pergi ke tempat asalnya. Dimana senyumannya lebih lepas dan bebannya terasa hilang. Kami pun berpisah tepat saat ia mengucap kata selamat tinggal yang samar.
Ini untuk keduanya, yang ternyata baru sempat kusampaikan walau dalam bentuk tulisan.
Because sometimes only paper will listen to you.
Ia
menggenggam cangkir kopinya
Meneguknya,
satu dua kali
Airnya
gemerisik bersuara
Seakan
tak akan pernah diminum lagi
Kini
ia beranjak dari kursi
Menuju
meja bundar yang penuh mata terpana
Aku
masih merasa ia terduduk
Menatapku
terpaku dengan segala tingkah dan sikapku
Seperti
masa itu
Bukan
perasaanku yang terlalu terbawa
Bukan
aku terlalu merasa
Melainkan
kisah kita yang entah kapan sudah ditengah lintasan
Aku baru saja menyadari
Bahwa
asap rokoknya berterbangan
Dibawa
angin juga angan-angan
Sibuk
menikam hatiku yang kesepian
Aku
tercekat hingga nafasku tinggal kenangan
Lidahku
kelu tiap detik ia disana
Ia
lupa untuk kembali
Ia
lupa sandarannya dulu
Ia
masih disana mengumbar senyum menyala
Sedang
aku disini tertahan sengatan asap rokoknya
Hingga
lambat laun, asap itu mengucap selamat tinggal
Tepat
saat ia membentuk rupa tubuhnya
No comments:
Post a Comment