Tuesday, November 10, 2015

Tinggal

Ini untuk dirinya, yang dulu pernah menetap dan tinggal. Namun, seperti biasa, pertemuan akan ada akhirnya. Dan kini pertemuan itu sampai pada garis finish. Dimana dia pergi dan kita berpisah. 
Ini untuk dirinya, yang tiba-tiba datang lalu memberi warna. Namun, seperti biasa, lalu pergi ke tempat asalnya. Dimana senyumannya lebih lepas dan bebannya terasa hilang. Kami pun berpisah tepat saat ia mengucap kata selamat tinggal yang samar. 
Ini untuk keduanya, yang ternyata baru sempat kusampaikan walau dalam bentuk tulisan. 

Because sometimes only paper will listen to you.



Ia menggenggam cangkir kopinya
Meneguknya, satu dua kali
Airnya gemerisik bersuara
Seakan tak akan pernah diminum lagi
Kini ia beranjak dari kursi
Menuju meja bundar yang penuh mata terpana
Aku masih merasa ia terduduk
Menatapku terpaku dengan segala tingkah dan sikapku
Seperti masa itu
Bukan perasaanku yang terlalu terbawa
Bukan aku terlalu merasa
Melainkan kisah kita yang entah kapan sudah ditengah lintasan

Aku baru saja menyadari
Bahwa asap rokoknya berterbangan
Dibawa angin juga angan-angan
Sibuk menikam hatiku yang kesepian
Aku tercekat hingga nafasku tinggal kenangan
Lidahku kelu tiap detik ia disana
Ia lupa untuk kembali
Ia lupa sandarannya dulu
Ia masih disana mengumbar senyum menyala
Sedang aku disini tertahan sengatan asap rokoknya
Hingga lambat laun, asap itu mengucap selamat tinggal
Tepat saat ia membentuk rupa tubuhnya



No comments:

Post a Comment