Dengan rindu yang mengusap wajah
Dengan sukma yang tertegun karena asa
Ia duduk disana, memandang langit tak berkedip
Sedang bercumbu di tengah hutan katanya
Biar bersatu dengan alam
Biar burung dan dedaunan menjadi saksi
Betapa hina dirinya
Biarlah ia lakukan apa yang diingininya
Tak mampu dilarang siapapun tak terkecuali Tuhan
Bibir Tuhan menjadi begitu tak berarti di matanya
Apalagi nasihat-nasihat orang yang tak berarti sepertiku
Dibalik matanya kutemukan arti kehidupan
Lalu sendu suaranya mengayomi sanubariku
Namun sayup matanya rintih meminta pertolongan
Hanya saja kepalanya terlalu batu
Dia, jika boleh kupinta satu hal
Maka kembalilah
Maka sadarilah
Renungilah semua ketidakbiasaan dirimu
Mungkin bisa tanyakan ke pohon, burung, dan dedaunan
Mungkin mereka kan beri satu jawaban
Mungkin tanyakan padaku, dan kuberi kepastian
Mungkin...
No comments:
Post a Comment