Sunday, November 22, 2015

Dia

Layang-layang diterbangkan
Dan saat itulah kulihat senyumanmu
Senja datang malu-malu
Dan saat itulah kulihat tingkahmu
Burung gereja bersahutan 
Dan saat itulah kurasa bicaramu

Lalu malam disapa samar kilauan cahaya
Dan jaket jeans bergoyang tersapu angin
Sedang kepulan asap perlahan keluar dari mulutmu
Saat itulah kulihat betapa tak sempurnanya dirimu
Tapi entah, buahnya terlanjur ranum, bunganya terlanjur mekar, batangnya terlanjur tumbuh
Kurasa cinta terlanjur hadir dalam dekapan mesra sapaanmu

Saturday, November 21, 2015

Mustahil


Mungkin bagimu, itu adalah suatu kemustahilan. Namun bagiku, di alam fana ini, tak ada yang mustahil. Mimpi misalnya, ia nampak nyata di bayanganku...

Tuesday, November 10, 2015

Tinggal

Ini untuk dirinya, yang dulu pernah menetap dan tinggal. Namun, seperti biasa, pertemuan akan ada akhirnya. Dan kini pertemuan itu sampai pada garis finish. Dimana dia pergi dan kita berpisah. 
Ini untuk dirinya, yang tiba-tiba datang lalu memberi warna. Namun, seperti biasa, lalu pergi ke tempat asalnya. Dimana senyumannya lebih lepas dan bebannya terasa hilang. Kami pun berpisah tepat saat ia mengucap kata selamat tinggal yang samar. 
Ini untuk keduanya, yang ternyata baru sempat kusampaikan walau dalam bentuk tulisan. 

Because sometimes only paper will listen to you.