Saturday, December 17, 2016

...


Aku punya adik kecil yang hidup serba berkecukupan, aman, dan nyaman. Mereka punya Ayah, Ibu, dan kakak-kakak yang senantiasa menjaganya dan memastikan hidup mereka dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, ternyata, Tuhan tidak pernah menyamakan kehidupan seluruh umat-Nya. Ada yang diberikan hidup tidak aman dan ada yang diberikan hidup aman selayaknya adikku. Aku selalu bertanya mengapa Tuhan melakukan itu dan mengapa tak semua anak kecil mendapat hidup yang baik seperti misalnya adik-adikku. Mengapa harus ada yang sekolahnya putus karena perekonomian yang tak cukup, atau mengapa harus ada yang tidurnya tidak tenang sebab orangtuanya kerap bertengkar, atau bahkan mengapa harus ada yang merasa ketakutan setiap waktu karena setiap waktu itu pula bisa saja ada penjahat yang menjatuhkan bom tiba-tiba dan sengaja tak sengaja melukainya. Mengapa?

Aku tahu tidak seharusnya aku bertanya seperti itu, sebab Tuhan lebih tahu segalanya. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi setiap makhluk yang diciptakannya. Tuhan juga punya maksud di balik yang telah Ia tetapkan. Anak-anak itu hidup bahagia, anak-anak yang lainnya hidup menderita itu tentu jadi ketetapan yang sudah Tuhan tentukan dengan rahasia maksud di baliknya.

Tapi, terus-terusan melihat adikku bahagia dan anak kecil lain menderita bukan suatu hal yang kusuka. Nenek-kakek buyutku mungkin pernah merasakan ini di Indonesia saat Belanda, Jepang, dan tentara sekutu menyerang habis-habisan Indonesia. Mulai dari menyerang secara politis hingga secara kekerasan. Jika ingat tentang bom Hiroshima dan Nagasaki, maka anak-anak yang berada di sana dan terkena bom begitu saja juga tentu pernah merasakan hal yang sama seperti yang anak-anak di Aleppo, Suriah kini rasakan. Atau pula anak-anak Palestina yang konfliknya tak juga selesai hingga kini dengan Israel.

Alhamdulillah-nya aku tidak merasakan masa perang dan konflik semacam itu. Aku menjalani masa kanak-kanak yang kurang lebih sama seperti adik kecilku. Tapi, aku tahu betul bagaimana tidak enaknya anak-anak kecil itu di sana. Aku yang begini saja masih merasa enak tak enak, apalagi mereka.

Tapi, inilah bagian yang paling menyebalkannya. Aku sungguh tidak tahu dan tidak mampu melakukan apapun selain do’a dan rasa sakitku setiap kali melihat mereka. Do’a jelas inshaaAllah sampai pada Tuhan, tapi rasa sedih dan sakitku ini melihat mereka? Apa itu cukup? Aku bukan bintang film atau artis yang dipuja hingga air matanya bahkan punya harga. Aku hanya mahasiswa biasa. Aku tak punya uang sebanyak yang mereka butuhkan. Aku juga tak punya kemampuan untuk bisa melindungi mereka dari bom-bom tak punya hati itu. Kekuatanku hanyalah rasa percaya bahwa Tuhan pasti punya maksud di balik semua ini dan bahwa Tuhan pasti mendengar dan mengabulkan do’aku untuk mereka. Pun do’a umat-Nya dan do’a orang-orang baik lainnya. 

Wednesday, October 19, 2016

Biarkan Ku

Biarkan ku berucap
dengan setumpuk jerami
di ubun-ubunku
menancapkan kehangatan
yang menembus sukmaku
Biarkan ku merangkai kata
di sederet batu karang
yang makin rapuh
dihantam nyalak ombak
dengan emosi menggebu
Biarkan ku melukiskannya
di lembar-lembar kayu dan kulit sapi
sebab kertasku sudah habis
terisi jeritan hatiku
yang tak selesai juga
Biarkan ku ditemani
ungu dan jingganya langit
dengan sunyi dan sepi
dan denting-denting jemariku
dan pasir putih
Biarkan ku menunggumu
dalam diam
dan tulisan-tulisanku yang dalam

Jatinangor, 14 Mei 2016

Saturday, September 17, 2016

Pilu Terdalam dari Keluarga Langit


Awan berjalan pelan melangkah di depan matahari. Ia tersenyum karena sebentar lagi akan menikam bumi dengan guntur yang bertubi-tubi. Tinggal tunggu waktunya. Karena tak satu pun anak kecil itu bisa menolak kedatangan guntur itu. Bahkan mereka pun tak peduli. Mereka masih menatap serius cermin bergambar itu. Sesekali mereka melonjak kegirangan saat tertulis di kaca itu, ‘You Win’. Namun lalu murung dan mendumel tak karuan saat tulisan itu tersusun huruf yang berbeda, ‘Game Over’. Anak-anak itu juga ada yang terduduk di depan cermin bergambar yang ukurannya lebih besar. Ia masih memakai seragam sekolah. Untung jika cermin itu menayangkan gambar yang sesuai dengan usianya, kalau tidak sesuai, bisa-bisa berabe dan makin membuat hati keluarga langit sedih.
Dengan adanya cermin-cermin canggih itu, keluarga langit sudah sedih terlebih lagi matahari. Kini tak ada lagi anak kecil yang memakai sandal jepitnya dan berlari kegirangan walau dibasuh sengatan panas cahayanya. Angin pun sedih sebab kini tak ada lagi segerombolan anak-anak membawa layang-layang mereka ke padang rumput lalu memohon pada angin agar berhembus lebih kencang. Setidaknya, layang-layang mereka mampu lebih tinggi dari layang-layang lainnya. Atau beruntung jika layang-layang itu mampu menyenggol ranum putih pipi awan. Mungkin hingga merona merah dibuatnya.
Bukan cuma matahari dan awan yang sedih. Bintang dan Bulan pun murung dibuatnya. Kepiluan tanpa akhir menghujam-hujam jantungnya. Mereka tak habis pikir, kini tak nampak lagi ayah anak, sepasang kekasih muda, atau ibu anak tertidur di padang rumput memandang mereka. Atau anak-anak menatap jendelanya tanpa henti menunggu salah satu bintang meluncur di angkasa. Sekejap tangan anak itu saling tergenggam lalu untaian doa mengalun lembut di bibirnya.
Mereka malah sibuk di cermin-cermin bergambar itu. Sang ayah dan ibu mengetik. Sang anak-anak menatapnya tanpa berkedip. Tak ada yang menemaninya dan memberi penjelasan tentang gambar yang muncul. Tak ada juga yang melarangnya untuk mengganti ke gambar yang sesuai usianya. Mereka sibuk sendiri-sendiri dengan cermin-cermin bergambar itu. Yang ukurannya hanya 8x6 cm hingga yang ber-inchi.
Pemandangan yang dirindukan keluarga langit kian langka. Amat langka. Mungkin jika bisa dijual akan mahal harganya, akan ada berpuluh milyader yang menawarnya. Saking jarangnya. Saking tidak pernahnya.
Diam-diam, awan yang sejak tadi tersenyum pada matahari malah berbahagia. Karenanya dan guntur, cermin dengan gambar bergerak itu tiba-tiba terserang ribuan semut, pun versi lebih kecilnya akan sulit jaringan dan tidak berguna lagi.
Seakan awan dan guntur adalah pahlawan kesiangan matahari, angin, bulan, dan bintang, awan dan guntur tertawa-tawa bahagia. Matahari, angin, bulan, dan bintang menatap mereka ikut kegirangan. Anak-anak itu mulai beranjak dari tempatnya duduk tanpa berkedip, mulai menaruh cermin bergambar yang ukurannya kecil, anak-anak mematikan kedua cermin bodoh itu, dan setidaknya mengganti seragam sekolahnya.
Ada pula anak-anak yang mulai merapikan selimut dan alas kasurnya yang berantakan, mulai membuka satu per satu buku yang hampir berdebu terpampang di meja belajarnya. Bahkan ada pula yang mulai melirik saudara kandungnya, memberanikan diri mengucap salam, lalu mengajak bermain petak umpet bersama.
Awan dan guntur mengirim hujan pada rumah-rumah dan sekolah-sekolah. Awan dan guntur mengganggu aktivitas jaringan yang jika tergambar garis-garisnya ruwet memenuhi kota. Walau matahari bersembunyi dibalik keduanya, walau angin harus berhembus lebih kencang lagi, dan bulan juga bintang masih bersembunyi di sisi bumi lainnya, mereka semua tetap bersyukur. Bahwa setidaknya, awan dan guntur mampu menyatukan anak Adam itu lagi. Anak-anak di belahan bumi manapun kembali tertawa riang karena hal yang nyata pun kembali sedih menangis meronta-ronta karena hal yang bisa dicapai indera. Bukan maya seperti yang matahari pandang selama ini di cermin-cermin bergambar itu.
Masa agaknya bertransformasi. Abad demi abad pun terlewati. Perkembangan zaman tak dapat disudahi. Karena manusia terus berfikir agar kebutuhannya terpenuhi. Matahari, angin, bulan, bintang, awan, dan guntur yang hidup lebih lama dari kita mungkin menyadari betapa berbedanya kita seiring waktu berlari. Mungkin mereka bersedih atau bisa jadi berbahagia dan tak peduli. Tapi, waktu tentulah sedih hati. Karena semakin lama, kemalasan membelenggu, kesia-siaan semakin nyata rupanya, dan waktu pun hanyalah barang murahan yang bisa ditawar siapa saja.
Ini baru soal apa yang menatap kita dari atas. Belum lagi kuceritakan bagaimana tanggapan pohon, bunga, daun, tanah, semak belukar, air, pasir, dan lainnya terhadap kebodohan tingkah manusia jaman ini. Ah, mungkin lebih pahit dan menyakitkan dari ini. Tapi, tak perlulah aku susah merangkai kata-katanya. Toh, kalau masih punya nurani, pasti kita akan bergerak sebelum diperintah, pasti akan berubah sebelum diminta berganti peran. Kini tinggal memilih. Mau mengecewakan atau membahagiakan. 

Sunday, August 28, 2016

Sepertiku Padamu


Seperti angin yang menghembus di sela telingaku
Seperti matahari yang memandangku setiap pagi
Seperti burung gagak yang setiap malam mengganggu tidurku
Seperti kucing yang bermain-main di kakiku
Seperti truk yang hampir-hampir menabrakku setiap kali menyebrang

Seperti mengingat apa yang sudah kulupakan
Seperti menggambar dengan kekuatan pikiran
Seperti menari tanpa musik
Seperi berjalan di atas air
Seperti melihat tanpa mata

Seperti kamu di hidupku
Seperti melupakanmu
Seperti pindah hati darimu ke yang lain

-Jatinangor, 29/08/2016

Saturday, August 27, 2016

In The Morning of August 16th


Life is completely a mistery. I don’t even can guess what is gonna happen. Sometimes, i choose the good opening but then end up with the very bad closing. This morning i feel happy and then at night i sleep with tears all over my face. I don’t know about me and my life. I am a fool. I don’t have any idea about anything in my life.

Thursday, June 23, 2016

His Wedding

(Alyssa and Emily are in the classroom, someone just give Emily a wedding invitation. That name of the bride are really familiar for Emily. It is his crush name or should i say the one that Emily love for these three years.)

Alyssa: so, you're gonna really come to that wedding?
Emily: (silent for a moment) yeah, of course! Why not?
Alyssa: i mean, aren't you...
Emily: (cut the talk) alyssa, i'm oke. Don't worry about me. I've promised to him that if i'm invited and available to come, i absolutely will come!
Alyssa: yeah, i knew it, but what about your feeling?
Emily: i said i'm okay. I'm happy when he's happy and he'll happy when i come
Alyssa: No, you're not
Emily: Alyssa...
Alyssa: i know you'll be hurt. I know you, Em. You always hide that, later when no one could see you, you'll cry and explode your feeling
Emily: (silent and staring at Alyssa)
Alyssa: Now, focus on your feeling, Em. You're not okay, i know that
Emily: Alyssa, in this world, there are people, there are you, my family, my friends, and him and the other people in this earth, country, city, in this neighborhood. We can't just focus on our feeling, we're not live alone
Alyssa: i said now, Em. Just this time. You cannot be like this anymore, you have to care with your feeling too
Emily: I care with my feeling so that i will come to his wedding. If he's happy, I will. As simple as that
Alyssa: Em... please...
Emily: Alyssa, sometimes the bad you see not always bad for me. There is good in every bad. Believe that

(Emily go out from that room. She does feel hurt about that wedding, but she still will go to that wedding whatever happen.)

Alyssa: Oh, come on! (Alyssa's furious)

Tuesday, June 21, 2016

I feel terrible today and this photo helps me so much.

Sabina Masih Sakit

Sabina kecil bersemangat menyambut ayahnya di depan rumah. Ayahnya bilang, ia akan membawa satu eksemplar koran yang memuat tulisan cerita pendeknya. Sudah 1 jam Sabina menunggu duduk dengan tenang di teras rumahnya. Ibu berkali-kali memanggilnya masuk, namun ia tetap bersikukuh duduk disana. Ia tak ingin melewatkan melihat tulisannya dimuat di koran tersebut. 
Saat jam dinding di dalam rumah berdentang, sebuah taksi berhenti di depan rumah. Mata Sabina yang kecil dan belo melotot sedemikian rupa. Ia memperhatikan seksama siapa yang muncul dari balik pintu taksi itu. 
“Ayah!!!” Sabina meloncat mengejar ayahnya. “Mana korannya, Yah? Mana?” Lengan Sabina menyisir tas dan genggaman Ayahnya. Namun, Sabina seketika berhenti ketika mendapati sebuah amplop warna coklat. Anak perempuan itu, walau usianya baru saja 10 tahun, tetap saja paham tentang amplop. Ia tahu itu adalah sebuah surat penting dan ia juga tahu jika bukan koran yang ayah bawakan berarti amplop itu sebagai pengganti. Tapi, Sabina sama sekali tak paham jika amplop itu ternyata pertanda buruk. 
Sabina mengambil amplop itu dan tanpa menghiraukan kata-kata Ayahnya, ia membukanya. Ia duduk di kursi teras rumah itu sambil membaca kata demi kata yang tertulis dalam surat di amplop itu. Ibu keluar rumah menatap Ayah sambil seakan bertanya “apa yang terjadi?” Tapi raut wajah Ayah telah menjawab semuanya. 
“Tak apa-apa! Sabina masih punya cerpen lainnya. Nanti, Sabina akan kirim yang lain.” Sabina meninggalkan surat dan amplop itu di kursi teras. Ia melenggang ke dalam rumah. Ayah dan Ibu bingung sebab tak ada raut sedih sedikitpun di wajah buah hati mereka. Setidaknya, tugas Ayah berkurang. Ia tak harus menghibur Sabina yang dikiranya akan menangis dua hari dua malam dan tidak mau makan. Di dasar hati paling dalam, Ayah bangga pada gadis kecilnya. Ternyata, Sabina jauh lebih dewasa dibandingkan pemikirannya. Ayah lega. Namun, satu yang tak Ayah ketahui, surat itu menjadi awal penyakit Sabina yang baru sembuh 20 tahun lamanya. 

Ucapan selamat memenuhi ruangan kelas pagi itu. Ghea, Jihan, Wandi, Ira, dan Daniel sebaliknya, mengucapkan banyak terima kasih. Tulisan mereka dimuat di media cetak nasional pagi itu. Ghea menulis berita khas travelling dan dimuat di majalah travel terkenal, Jihan menulis cerita pendek yang dimuat di koran nasional dan sekaligus menjadi pemenang cerpen terbaik edisi bulan itu, Wandi menulis berita langsung dan menjadi headline koran nasional, kumpulan puisi Ira dimuat di koran nasional, dan berita khas Daniel dimuat di majalah berita nasional. Sabina sudah mengucapkan selamat kepada kelimanya ketika sampai di kelas tadi. Ia juga sudah melihat tulisan-tulisan mereka. Membaca bagian awalnya dan akhirnya lalu memuji sedikit tulisan teman-temannya. Kini, ia duduk di kursinya di baris kedua paling pojok dekat dengan jendela. Ia membuka buku hariannya. Ditulisnya satu buah kalimat, “Aku takut.” 
Siang harinya, Sabina masih gemetar membayangkan pagi hari tadi. Begitu mudah tulisan teman-temannya itu dimuat. Apalagi Jihan, cerita pendeknya selalu menjadi pemenang dalam berbagai lomba cerita pendek. Padahal, cerpen Sabina dan Jihan toh tidak jauh berbeda. Apalagi, Jihan baru menulis sejak duduk di bangku SMP, sedangkan Sabina telah menulis bahkan sejak dirinya baru bisa menulis. Lalu berita. Hei, bukankah berita yang dimuat itu adalah hasil tugas yang diberikan dosen? Kualitasnya sama saja dong? Temanya bahkan biasa saja. Hanya seputar realitas di kotanya. Tapi mengapa dimuat? Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di benak Sabina. Ia lagi-lagi takut. Entah berapa halaman buku hariannya hanya bertuliskan kata-kata itu. 
Ia sangat butuh dilahirkan kembali. Setidaknya, ketika dulu memutuskan untuk menerima tawaran Ayahnya mengirimkan tulisan ke koran, ia mempertimbangkannya terlebih dahulu. Bisa saja, ia berhari-hari membaca berkali-kali semua cerpennya lalu menilainya sendiri atau mungkin meminta Ayah dan teman dekatnya menilai tulisan itu baru kemudian memutuskan akan dikirim atau tidak. Bodohnya, ia baru melakukan hal tersebut setelah menerima amplop penolakan itu. 

“Hana dan Hani, Janji Keyla pada Bunda, Sore bersama Paman, Melihat Matahari, Seragam Baru yang Lusuh, Bulan Tersenyum Padaku, Hari.. Ehm... Tidak... Mangga..., Arrrgggh! Bodoh sekali! Tulisan ini jelek dan menjijikkan!” Sabina melempar mouse komputernya. Ia bangun dari kursi belajarnya dan melompat ke atas kasur. Ia meringkuk memeluk kakiknya. Tangisannya pecah. Malam itu, bulan menatap Sabina iba. Ia tak henti menangis dan menyesali keputusannya. Kalau saja ia sadar lebih awal bahwa tulisan itu tak sekedar hanya sampah, ia mungkin masih memiliki kepercayaan diri yang cukup bahkan hingga bertahun-tahun kemudian. Namun, ia bodoh sekali. Ia malah nekat mengirimkan tulisan itu. Ia nekat mencabut duri yang tertancap pada kakinya. Ia merasa sangat bodoh. Kini, ia Cuma bisa menulis “aku takut” di setiap lembar buku hariannya. Ia telah dikalahkan dirinya sendiri dan penyakit itu. 

“Sabina!” Lamunannya dibangunkan suara Yasha yang langsung duduk di sampingnya. “Kamu makan sendirian aja?” Sabina mengangguk. Ia lalu menyendok kuah bakso yang telah dingin itu. “Hmm, aku ikut makan ya! Tapi temenin aku sampe selesai, hehe” Yasha nyengir dan Sabina mengangguk lagi. “Bang, baksonya satu, gausah pake sayur dan pedes ya!” “Pake sayur sha, kasian perut kamu gak dapat gizi yang lengkap!” Sabina buka mulut. Ia tak pernah bisa betul-betul dalam merasakan sesuatu. Ia selalu bersikap biasa seolah hidupnya sangat bahagia sampai Ayah dan Ibu pun tak pernah sadar tentang penyakitnya itu. 
Yasha hanya membalas dengan tawa. Sejak kecil, ia memang anti sayur sedangkan Sabina pecinta sayur. 
“So, what’s story?” Sabina memulai pembicaraan. 
“Hari ini, boleh lah  Ghea, Jihan, Wandi, Ira, dan Daniel bersenang ria. Besok, tunggu tulisanku di majalah film ya!”
“Kamu mengirimkan berita tentang film? Diskusi film Jepang yang di Bandung waktu itu?” Sabina bertanya semangat, padahal getaran ketakutan telah mulai bermunculan. 
“Iya! Tapi gak itu aja.”
“Then?”
“Review tiga film terburuk tahun ini,”
Mata Sabina melotot, “So, you’re really gonna againt that movies?”
“Iyalah, hahaha. Review aku itu udah dibandingkan dengan film lain yang genrenya sama dan film yang ada di tahun itu juga film lainnya deh. Trus juga review itu ada opini dari banyak orang,” Yasha tertawa sesaat. 
“Kamu yakin akan dimuat?” Sabina bertanya dengan hati-hati.
“Tidak ada kekuatan yang lebih besar dibandingkan keyakinan, Sab.” Yasha menyendok suapan bakso pertamanya sedangkan Sabina seakan merasa asing dengan kata ‘keyakinan’ itu. Ia seakan tidak lagi mengenal kata tersebut. Lama sekali ia hidup tanpa ada kata itu. Entah sampai kapan. 
“Tugas berita khas kamu yang kemarin udah dikirim?” Sabina menoleh pada Yasha. Ia menggeleng. “Kenapa?” Sabina terdiam sesaat namun Yasha berbicara lagi. “Tulisan kamu yang tentang nasib buruh perempuan di keren loh!” Sabina hanya tersenyum. Yasha menatapnya bingung. “Nanti, aku coba kirimkan,” kepalsuan ke sekian kalinya Sabina. 
Sejak kapan ia mau mengirimkan tulisannya lagi setelah menerima amplop itu? Ia tak pernah punya kekuatan yang paling kuat itu lagi. Penyakitnya belum juga bisa tersembuhkan. Amplop itu telah merenggut segalanya dan malah memberikan penyakit yang paling dibencinya. 

Sabina masih sakit pun hingga tulisan ini lahir.

Friday, June 17, 2016

If Only


If only you see this
If only you realize that i broke because of you
If only you know the reason why
that laugh, way i talk to you, and chatting
still look normal
On the contrary, i cry over you
i hit and throw all of my stuff
cause this hard feeling
If only you know
all of that happen because i love you
i mean, really love you
If only you realize that all of this
is about you...
If only you don't love her
or
If only magical thing happen easily

Thursday, May 26, 2016

Tentang Wanita di Emperan Toko


Hujan turun sejak malam kemarin. Pagi ini, hujan masih seakan marah mengahantam rerumputan, lapangan, jalan-jalan, dan atap rumah. Bunyinya memekikkan telinga membuat seisi kota riuh padahal tak ada seorang pun berbicara. Orang-orang yang bergantian melewati trotoar toko-toko alat tulis dan kue hanya diam sambil memandang lurus ke depan. Tangannya sigap menggenggam payung dan kaki-kakinya melangkah dengan cepatnya. Mereka seakan tak sudi menghabiskan waktu lama untuk melewati hujan yang tidak berperi kemanusiaan ini.

Seorang wanita duduk di depan emperan salah satu toko yang terpajang di sepanjang trotoar itu. Matanya sayu dan bibirnya pucat. Ia tampak sedang tidak enak badan. Tapi, apalah peduli orang-orang yang melewatinya. Tiap dari mereka mencari kebahagiaan masing-masing. Dan bahagia mereka adalah sebatas harta dan tahta bukan senyum orang lain. Wanita itu pun begitu. Di tengah kebisuannya dan rasa sakit yang sejak tadi ia coba tahan, ia juga cuma ingin harta. Ia butuh harta yang berlimpah, berkeping-keping emas, berlembar-lembar uang kartal, dan banyak angka nol setelah angka satu yang tertulis sehingga bisa ditukarkannya pada bank dan menjadi uang dalam bentuk fisik. Semua itu kebutuhan dan bukan keinginannya semata sebab ada perut yang menunggu untuk diberi makan di rumahnya dan ada pula tubuh yang harus diurus di rumah sakit sesegera mungkin.

Namun, air yang sejak tadi berjatuhan bergantian dan suara gemuruh petir yang bermunculan membuat rencananya hari itu berjalan terhambat. Padahal semalam, ia sudah menyusun rencana itu sematang dan sedetil mungkin agar tidak ada kekurangan pagi ini. Tapi, mau berkata apa sebab ekspektasi dan realita adalah musuh bebuyutan.

Wanita itu mulai gelisah. Rambutnya meneteskan air hujan yang sejak tadi menyemprot kearahnya. Tubuhnya menggigil padahal dibalut tiga lapis pakaian dengan lengan yang panjang pula. Bibirnya makin pucat dan matanya makin sayu. Tak satu pun ada yang peduli. Bahkan seorang laki-laki yang baru saja datang untuk membuka toko yang emperannya digunakan wanita itu untuk berteduh hanya memandang wanita itu sejenak lalu mengalihkan pandangannya lagi dan mulai membuka tokonya tanpa suara. Bagi lelaki itu, ia sudah terlalu baik dengan memutuskan untuk membiarkan wanita itu duduk berteduh disana. Jadi, untuk apa ia harus basa basi dengan wanita itu. Apalagi, ia seperti akan tumbang sebentar lagi.

Dan benar saja, wanita itu jatuh. Tubuhnya yang ringkih menghantam trotoar yang makin ramai dilewati orang-orang. Lelaki pemilik toko di dalam tokonya terdiam seakan-akan berpura-pura tidak melihat. Dari wajahnya, ia sangat kesal sendiri. Ia seperti mengutuk dirinya sendiri karena telah membiarkan wanita itu masih berteduh. Harusnya ia usir saja wanita itu sehingga bukan tanggungannya lagi ketika ia tumbang seperti itu.

Satu orang yang kebetulan lewat panik dan berteriak minta tolong. Percuma saja sebab suaranya tenggelam ditelan suara hujan yang riuh dan mengganggu. Orang tersebut mencoba mengguncangkan tubuh wanita itu tapi tak ada tanda-tanda kehidupan. Ia makin berteriak kencang hingga akhirnya salah satu mobil yang lewat berhenti setelah sekitar 8 mobil sebelumnya melewati orang panik itu.

Wanita dan orang panik itu pergi lalu lelaki pemilik toko barulah keluar. Ia melongo sambil memastikan mobil itu sudah pergi jauh. Tak berapa lama, ia membersihkan lantai depan tokonya yang terdapat bercak telapak kaki disitu. Saat ia membersihkan lantai tersebut, tiap orang yang lewat mengintip sedikit toko itu, lebih tepatnya lantai itu.

Baru kutahu, ternyata lantai jauh lebih menarik dibanding wanita tua yang sayu dan pucat.

Sunday, May 8, 2016

Dan

Dan dusta
telah lama menemaniku
sejak bersitatap denganmu
tentang mataku yang berpeluh
tubuhku yang gemetar
serta pipiku yang merona merah
Pula tentang bait kata
yang tertulis 
di pojok lembar buku novelku
di halaman belakang buku tulisku
dan di tiap lembar buku harianku
Dan dosa
mengalir mulus di keringatku
turun menjadi genangan
menetes di jalan-jalan
antara kita berdua

Dalam mengingatmu malam kemarin,
Dinda Ramayulis
08/05/2016


Thursday, May 5, 2016

Tak Ada Lagi Ruang

Ketika seseorang telah singgah cukup lama lalu memberi bekas tak terkira besarnya
Hari hari hanya bisa dihabiskan dengan membersihkannya
Sebab yang lain telah mengetuk pintunya
Tapi tak bisa
Masih saja semuanya disana
Mengering hingga jadi kerak
Menua hingga jadi tengkorak
Tak berusaha pergi merangkak

Setiap yang datang setelahnya cuma melodi merdu
Yang menyanyi di kala sendu
Yang malu malu merindu
Tapi tak pernah ada ruang maupun waktu
Sebab yang berbekas itu selalu mengganggu

Aku cuma bagian dari yang datang
Singgah sebentar lalu dipaksa pulang
Bagai terbuang
Rapuh pun aku seperti tulang belulang
Karena dirimu, karena hatimu yang sekarang

Aku cuma kemustahilan yang kau beri ruang untuk menjadi kemungkinan
Padahal keduanya berbeda
Jauh berbeda

Sunday, March 13, 2016

Aku Sedang Apa

Aku sedang tak ingin menari
Gerakannya membosankan dan kaku
Musiknya memekakkan telinga
Cerminnya muram lihat ragaku
Aku juga tak ingin bernyanyi
Liriknya tak logis
Nadanya sumbang
Suaraku tak enak didengar
Aku juga lelah menulis
Tiap kata menertawakanku
Karena salah tulis sehingga tak ada arti
Lalu alur ceritanya acak-acakan
Aku ingin tidur saja
Karena mimpi ternyata sempurna
Kecuali saat kubangun nanti
Ia kadang menyebalkan
Suka pergi tanpa permisi

Tuesday, February 23, 2016

Just Me

That's right, honey 
When you use that knife to make a smile on my mouth
That's cool, baby
When you act like a murderer when try to make joke for me
That's best, sweety
When you said that my tears and my wound show how delightful i am

You never be wrong
Cause you're my boy
And my boy never do bad things
And my boy always do the right things

If anyone call you freak and bad
It must be me to be blame 
Just me 

Wednesday, February 17, 2016

Why


You do have something that huge
You do have something special
To make my world become easily hard
And to make my time freely busy
But it’s  three months since that sweet meeting
When my heart fall for you
And your name is flying all over my brain
I’m not seeing anything that could be the reason of this

You’re so mysterious more than ghost or a murderer
I even choose to meet the murderer one than you
Because you have killed my heart
You broke them just like it’s not yours
But i still remember how you whisper to me
While your hand on my chest
“This heart is mine now, i will keep it”
Ah, i forget, you didn’t mention how the way

Boy, just tell me the huge thing
And the special one
Why you easily conquered me?
Why when everytime you kiss me in the hard time of our relationship, i can not say no

My lips miss you all the time
My body do so
And my heart just miss the feeling to be loved by you
But it’s kinda impossible thing now, right?
Just say yes
As that simple

Ah i hate you
But, i’m more loving in you