Awan berjalan pelan melangkah di depan matahari. Ia tersenyum karena sebentar lagi akan
menikam bumi dengan
guntur yang bertubi-tubi. Tinggal tunggu waktunya. Karena tak satu pun anak kecil itu bisa menolak
kedatangan guntur itu. Bahkan mereka pun tak peduli. Mereka
masih menatap serius cermin bergambar
itu. Sesekali mereka melonjak kegirangan saat tertulis di kaca itu, ‘You Win’. Namun lalu murung dan
mendumel tak karuan saat tulisan itu tersusun huruf yang berbeda, ‘Game Over’. Anak-anak itu juga ada yang terduduk di depan cermin bergambar yang
ukurannya lebih besar. Ia masih memakai seragam sekolah. Untung jika cermin itu
menayangkan gambar yang sesuai dengan usianya, kalau tidak sesuai, bisa-bisa
berabe dan makin membuat hati keluarga langit sedih.
Dengan adanya
cermin-cermin canggih itu, keluarga langit sudah sedih terlebih lagi matahari. Kini tak ada lagi anak kecil yang memakai sandal jepitnya dan
berlari kegirangan walau dibasuh sengatan panas cahayanya. Angin pun sedih sebab kini tak ada lagi segerombolan
anak-anak membawa layang-layang mereka ke padang rumput lalu memohon pada angin
agar berhembus lebih kencang. Setidaknya, layang-layang mereka mampu lebih
tinggi dari layang-layang lainnya. Atau beruntung jika layang-layang itu mampu
menyenggol ranum putih pipi awan. Mungkin hingga merona merah dibuatnya.
Bukan cuma matahari dan awan
yang sedih. Bintang dan Bulan pun murung dibuatnya. Kepiluan tanpa akhir
menghujam-hujam jantungnya. Mereka tak habis pikir, kini tak nampak lagi ayah
anak, sepasang kekasih muda, atau ibu anak tertidur di padang rumput memandang
mereka. Atau anak-anak menatap jendelanya tanpa henti menunggu salah satu
bintang meluncur di angkasa. Sekejap tangan anak itu saling tergenggam lalu
untaian doa mengalun lembut di bibirnya.
Mereka malah
sibuk di cermin-cermin bergambar itu. Sang ayah dan ibu mengetik. Sang
anak-anak menatapnya tanpa berkedip. Tak ada yang menemaninya dan memberi
penjelasan tentang gambar yang muncul. Tak ada juga yang melarangnya untuk
mengganti ke gambar yang sesuai usianya. Mereka sibuk sendiri-sendiri dengan
cermin-cermin bergambar itu. Yang ukurannya hanya 8x6 cm hingga yang ber-inchi.
Pemandangan
yang dirindukan keluarga langit kian langka. Amat langka. Mungkin
jika bisa dijual akan mahal harganya, akan ada berpuluh milyader yang
menawarnya. Saking jarangnya. Saking tidak pernahnya.
Diam-diam, awan yang sejak
tadi tersenyum pada matahari malah berbahagia. Karenanya dan guntur, cermin dengan gambar bergerak itu
tiba-tiba terserang ribuan
semut, pun versi lebih kecilnya akan sulit jaringan dan tidak berguna lagi.
Seakan awan dan guntur
adalah pahlawan kesiangan matahari, angin, bulan, dan bintang, awan dan guntur tertawa-tawa bahagia. Matahari, angin, bulan, dan bintang
menatap mereka ikut kegirangan. Anak-anak itu mulai beranjak dari tempatnya
duduk tanpa berkedip, mulai menaruh cermin bergambar yang ukurannya kecil, anak-anak
mematikan kedua cermin bodoh itu, dan setidaknya mengganti seragam sekolahnya.
Ada pula anak-anak yang mulai merapikan selimut dan alas kasurnya yang
berantakan, mulai
membuka satu per satu buku yang hampir berdebu terpampang di meja belajarnya. Bahkan ada pula yang mulai melirik saudara kandungnya,
memberanikan diri mengucap salam, lalu mengajak bermain petak umpet bersama.
Awan dan guntur mengirim
hujan pada rumah-rumah dan sekolah-sekolah. Awan dan guntur mengganggu
aktivitas jaringan yang jika tergambar garis-garisnya ruwet memenuhi kota.
Walau matahari bersembunyi dibalik keduanya, walau angin harus berhembus lebih
kencang lagi, dan bulan juga bintang masih bersembunyi di sisi bumi lainnya,
mereka semua tetap bersyukur. Bahwa setidaknya, awan dan guntur mampu
menyatukan anak Adam itu lagi. Anak-anak di belahan bumi manapun kembali
tertawa riang karena hal yang nyata pun
kembali sedih menangis meronta-ronta karena hal yang bisa dicapai indera. Bukan maya seperti yang matahari
pandang selama ini di cermin-cermin bergambar itu.
Masa agaknya
bertransformasi. Abad demi abad pun terlewati. Perkembangan zaman tak dapat
disudahi. Karena manusia terus berfikir agar kebutuhannya terpenuhi. Matahari,
angin, bulan, bintang, awan, dan guntur yang hidup lebih lama dari kita mungkin
menyadari betapa berbedanya kita seiring waktu berlari. Mungkin mereka bersedih
atau bisa jadi berbahagia dan tak peduli.
Tapi, waktu tentulah sedih hati. Karena
semakin lama, kemalasan membelenggu, kesia-siaan semakin nyata rupanya, dan
waktu pun hanyalah barang murahan yang bisa ditawar siapa saja.
Ini baru soal apa yang
menatap kita dari atas. Belum lagi kuceritakan bagaimana tanggapan pohon,
bunga, daun, tanah, semak belukar, air, pasir, dan lainnya terhadap kebodohan
tingkah manusia jaman ini. Ah, mungkin lebih pahit dan menyakitkan dari ini.
Tapi, tak perlulah aku susah merangkai kata-katanya. Toh, kalau masih punya
nurani, pasti kita akan bergerak sebelum diperintah, pasti akan berubah sebelum
diminta berganti peran. Kini tinggal memilih. Mau mengecewakan atau
membahagiakan.