Thursday, May 26, 2016

Tentang Wanita di Emperan Toko


Hujan turun sejak malam kemarin. Pagi ini, hujan masih seakan marah mengahantam rerumputan, lapangan, jalan-jalan, dan atap rumah. Bunyinya memekikkan telinga membuat seisi kota riuh padahal tak ada seorang pun berbicara. Orang-orang yang bergantian melewati trotoar toko-toko alat tulis dan kue hanya diam sambil memandang lurus ke depan. Tangannya sigap menggenggam payung dan kaki-kakinya melangkah dengan cepatnya. Mereka seakan tak sudi menghabiskan waktu lama untuk melewati hujan yang tidak berperi kemanusiaan ini.

Seorang wanita duduk di depan emperan salah satu toko yang terpajang di sepanjang trotoar itu. Matanya sayu dan bibirnya pucat. Ia tampak sedang tidak enak badan. Tapi, apalah peduli orang-orang yang melewatinya. Tiap dari mereka mencari kebahagiaan masing-masing. Dan bahagia mereka adalah sebatas harta dan tahta bukan senyum orang lain. Wanita itu pun begitu. Di tengah kebisuannya dan rasa sakit yang sejak tadi ia coba tahan, ia juga cuma ingin harta. Ia butuh harta yang berlimpah, berkeping-keping emas, berlembar-lembar uang kartal, dan banyak angka nol setelah angka satu yang tertulis sehingga bisa ditukarkannya pada bank dan menjadi uang dalam bentuk fisik. Semua itu kebutuhan dan bukan keinginannya semata sebab ada perut yang menunggu untuk diberi makan di rumahnya dan ada pula tubuh yang harus diurus di rumah sakit sesegera mungkin.

Namun, air yang sejak tadi berjatuhan bergantian dan suara gemuruh petir yang bermunculan membuat rencananya hari itu berjalan terhambat. Padahal semalam, ia sudah menyusun rencana itu sematang dan sedetil mungkin agar tidak ada kekurangan pagi ini. Tapi, mau berkata apa sebab ekspektasi dan realita adalah musuh bebuyutan.

Wanita itu mulai gelisah. Rambutnya meneteskan air hujan yang sejak tadi menyemprot kearahnya. Tubuhnya menggigil padahal dibalut tiga lapis pakaian dengan lengan yang panjang pula. Bibirnya makin pucat dan matanya makin sayu. Tak satu pun ada yang peduli. Bahkan seorang laki-laki yang baru saja datang untuk membuka toko yang emperannya digunakan wanita itu untuk berteduh hanya memandang wanita itu sejenak lalu mengalihkan pandangannya lagi dan mulai membuka tokonya tanpa suara. Bagi lelaki itu, ia sudah terlalu baik dengan memutuskan untuk membiarkan wanita itu duduk berteduh disana. Jadi, untuk apa ia harus basa basi dengan wanita itu. Apalagi, ia seperti akan tumbang sebentar lagi.

Dan benar saja, wanita itu jatuh. Tubuhnya yang ringkih menghantam trotoar yang makin ramai dilewati orang-orang. Lelaki pemilik toko di dalam tokonya terdiam seakan-akan berpura-pura tidak melihat. Dari wajahnya, ia sangat kesal sendiri. Ia seperti mengutuk dirinya sendiri karena telah membiarkan wanita itu masih berteduh. Harusnya ia usir saja wanita itu sehingga bukan tanggungannya lagi ketika ia tumbang seperti itu.

Satu orang yang kebetulan lewat panik dan berteriak minta tolong. Percuma saja sebab suaranya tenggelam ditelan suara hujan yang riuh dan mengganggu. Orang tersebut mencoba mengguncangkan tubuh wanita itu tapi tak ada tanda-tanda kehidupan. Ia makin berteriak kencang hingga akhirnya salah satu mobil yang lewat berhenti setelah sekitar 8 mobil sebelumnya melewati orang panik itu.

Wanita dan orang panik itu pergi lalu lelaki pemilik toko barulah keluar. Ia melongo sambil memastikan mobil itu sudah pergi jauh. Tak berapa lama, ia membersihkan lantai depan tokonya yang terdapat bercak telapak kaki disitu. Saat ia membersihkan lantai tersebut, tiap orang yang lewat mengintip sedikit toko itu, lebih tepatnya lantai itu.

Baru kutahu, ternyata lantai jauh lebih menarik dibanding wanita tua yang sayu dan pucat.

Sunday, May 8, 2016

Dan

Dan dusta
telah lama menemaniku
sejak bersitatap denganmu
tentang mataku yang berpeluh
tubuhku yang gemetar
serta pipiku yang merona merah
Pula tentang bait kata
yang tertulis 
di pojok lembar buku novelku
di halaman belakang buku tulisku
dan di tiap lembar buku harianku
Dan dosa
mengalir mulus di keringatku
turun menjadi genangan
menetes di jalan-jalan
antara kita berdua

Dalam mengingatmu malam kemarin,
Dinda Ramayulis
08/05/2016


Thursday, May 5, 2016

Tak Ada Lagi Ruang

Ketika seseorang telah singgah cukup lama lalu memberi bekas tak terkira besarnya
Hari hari hanya bisa dihabiskan dengan membersihkannya
Sebab yang lain telah mengetuk pintunya
Tapi tak bisa
Masih saja semuanya disana
Mengering hingga jadi kerak
Menua hingga jadi tengkorak
Tak berusaha pergi merangkak

Setiap yang datang setelahnya cuma melodi merdu
Yang menyanyi di kala sendu
Yang malu malu merindu
Tapi tak pernah ada ruang maupun waktu
Sebab yang berbekas itu selalu mengganggu

Aku cuma bagian dari yang datang
Singgah sebentar lalu dipaksa pulang
Bagai terbuang
Rapuh pun aku seperti tulang belulang
Karena dirimu, karena hatimu yang sekarang

Aku cuma kemustahilan yang kau beri ruang untuk menjadi kemungkinan
Padahal keduanya berbeda
Jauh berbeda