Wednesday, September 2, 2015

Kau Lupa


Awan kehitaman menutup perlahan semburat oranye wajahmu
Tetes demi tetes air bening melumatkan polesan bedak dan maskaramu
Lalu suara-suara parau menutupi pendengaranmu
Begitupula isak yang tak hentinya muncul, hilang, muncul, hilang
Dia tahu kau menelungkupkan wajahmu di bawah bantal
Dia tahu hatimu tersayat habis oleh pisau yang lebih tajam dari apapun
Dia tahu pikiranmu mulai melayang kemanapun, berfikir untuk segera mengakhiri kesedihan ini
Tapi kau tak tahu ada yang memperhatikanmu
Kau berjalan penuh gairah ke arah meja di pojok kamarmu
Kau membuka paksa laci mejamu yang sudah mulai rapuh
Lalu kau temukan alat bergagang itu
Dia masih menatapmu iba
Berharap kau tak akan menuruti nafsu sakitmu
Tapi usaha-Nya seakan percuma karena kau bahkan lebih percaya dengan makhluk terseram itu
Kau terduduk di dalam bak mandi kamar mandimu
Tidak lupa kau kunci pintunya
Kau gores dalam lenganmu
Lalu tetesan cairan merah larut dalam air bak itu
Dan Dia pun akhirnya menemukanmu di alam lain
Saat kamu meringis melihat seonggok tubuh dengan wajah duka tenggelam dalam air merah yang mengalir
Dia tertunduk, kau lemas, kini gelembung penyesalan perlahan muncul memenuhi hatimu yang tak lagi berfungsi sedemikian rupa itu
Kau lupa, bahwa saat yang lain menyakitimu ada Dia yang berusaha menyelamatkanmu

Dinda Ramayulis

No comments:

Post a Comment