Awan
kehitaman menutup perlahan semburat oranye wajahmu
Tetes
demi tetes air bening melumatkan polesan bedak dan maskaramu
Lalu
suara-suara parau menutupi pendengaranmu
Begitupula
isak yang tak hentinya muncul, hilang, muncul, hilang
Dia
tahu kau menelungkupkan wajahmu di bawah bantal
Dia
tahu hatimu tersayat habis oleh pisau yang lebih tajam dari apapun
Dia
tahu pikiranmu mulai melayang kemanapun, berfikir untuk segera mengakhiri
kesedihan ini
Tapi
kau tak tahu ada yang memperhatikanmu
Kau
berjalan penuh gairah ke arah meja di pojok kamarmu
Kau
membuka paksa laci mejamu yang sudah mulai rapuh
Lalu
kau temukan alat bergagang itu
Dia
masih menatapmu iba
Berharap
kau tak akan menuruti nafsu sakitmu
Tapi
usaha-Nya seakan percuma karena kau bahkan lebih percaya dengan makhluk
terseram itu
Kau
terduduk di dalam bak mandi kamar mandimu
Tidak
lupa kau kunci pintunya
Kau
gores dalam lenganmu
Lalu
tetesan cairan merah larut dalam air bak itu
Dan
Dia pun akhirnya menemukanmu di alam lain
Saat
kamu meringis melihat seonggok tubuh dengan wajah duka tenggelam dalam air
merah yang mengalir
Dia
tertunduk, kau lemas, kini gelembung penyesalan perlahan muncul memenuhi hatimu
yang tak lagi berfungsi sedemikian rupa itu
Kau
lupa, bahwa saat yang lain menyakitimu ada Dia yang berusaha menyelamatkanmu
Dinda Ramayulis
No comments:
Post a Comment