Baru awal, namun ku sudah rasakan seperti di rumah. Baru
awal, namun ku cepat tersenyum dengan mereka. Tanpa tekanan. Tanpa rasa takut.
Bisa saja selanjutnya berbeda atau akhirnya akan menyakitkan tapi setidaknya
langkah ini dimulai dengan keyakinan dan senyuman. Selanjutnya, hanya tinggal
harap yang kukirim jauh ke hadapan Tuhan. Semoga tetap begini sampai nanti.
Lihatlah, ini beberapa tangkapan kebahagiaan dari wajah
kami. Dan beberapa bait kata yang tercipta di benak kami. Dari satu kata yang
sulit digambarkan, kami buat tampilan kreatif. Dalam waktu cukup beberapa
menit, kami padu padankan bakat kami. Selamat membaca!
DAKI
Oleh: Dinda R, Selviana, Athifa, dan
Krisna
Aku hanyalah pengemis
tua yang tak dianggap
Meminta, memohon untuk
nasi walau sesuap
Untuk peluk walau
hanya satu dekap
Tapi mereka benci saat
bersitatap
Dengan diriku yang bak
daki di sekujur tubuh yang gelap
Apalah diriku
Siapalah diriku
Masa lalu kelam
membungkus hari-hariku
Terlupakan,
tertinggal, terbuang
Bagai si daki yang
membatu
Hingga berbekas tak
kan hilang
Jikalau nanti ku
bertemu denganmu
Aku tetaplah sang
betina yang tak dikenang
Ditinggal bersama si
bocah yang begitu malang
Kini ku bersembunyi dibalik mantra
Yang sibuk kupoles
setiap harinya
Setebal-tebalnya
Agar segala daki pun
hilang sempurna
Walau kutahu, hatiku
tetaplah begini, tertinggal, terbuang, terlupa
Kotor, bau, najis
Aku wanita bak daki
Terhempas celurit tajam
HAHAHA
Mataku adalah daki
Tangisku adalah daki
Darahku adalah daki
Kotor, bau, najis
Setelah semuanya,
kusadar
Aku hanyalah Daki.



No comments:
Post a Comment