Sunday, October 4, 2015

The New Step

Andai saja waktu mampu berputar melawan arah, kembali ke masa dimana ku baru menatap sekitar, mungkin aku akan berpikir dua kali untuk memilih tempat selanjutnya ku bernaung. Namun, lagi-lagi penyesalan datang terakhir dan untungnya Tuhan masih membuka jalan luas untukku kembali memilih. Kini, aku mengejar kesempatan itu. Demi memperluas koneksiku pun memperluas pengetahuanku.

Baru awal, namun ku sudah rasakan seperti di rumah. Baru awal, namun ku cepat tersenyum dengan mereka. Tanpa tekanan. Tanpa rasa takut. Bisa saja selanjutnya berbeda atau akhirnya akan menyakitkan tapi setidaknya langkah ini dimulai dengan keyakinan dan senyuman. Selanjutnya, hanya tinggal harap yang kukirim jauh ke hadapan Tuhan. Semoga tetap begini sampai nanti.

Lihatlah, ini beberapa tangkapan kebahagiaan dari wajah kami. Dan beberapa bait kata yang tercipta di benak kami. Dari satu kata yang sulit digambarkan, kami buat tampilan kreatif. Dalam waktu cukup beberapa menit, kami padu padankan bakat kami. Selamat membaca!




DAKI

Oleh: Dinda R, Selviana, Athifa, dan Krisna






Aku hanyalah pengemis tua yang tak dianggap
Meminta, memohon untuk nasi walau sesuap
Untuk peluk walau hanya satu dekap
Tapi mereka benci saat bersitatap
Dengan diriku yang bak daki di sekujur tubuh yang gelap
Apalah diriku
Siapalah diriku

Masa lalu kelam membungkus hari-hariku
Terlupakan, tertinggal, terbuang
Bagai si daki yang membatu
Hingga berbekas tak kan hilang
Jikalau nanti ku bertemu denganmu
Aku tetaplah sang betina yang tak dikenang
Ditinggal bersama si bocah yang begitu malang

 Kini ku bersembunyi dibalik mantra
Yang sibuk kupoles setiap harinya
Setebal-tebalnya
Agar segala daki pun hilang sempurna
Walau kutahu, hatiku tetaplah begini, tertinggal, terbuang, terlupa

Kotor, bau, najis
Aku wanita bak daki
Terhempas celurit tajam
HAHAHA
Mataku adalah daki
Tangisku adalah daki
Darahku adalah daki
Kotor, bau, najis

Setelah semuanya, kusadar
Aku hanyalah Daki.


No comments:

Post a Comment