Saturday, December 17, 2016

...


Aku punya adik kecil yang hidup serba berkecukupan, aman, dan nyaman. Mereka punya Ayah, Ibu, dan kakak-kakak yang senantiasa menjaganya dan memastikan hidup mereka dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, ternyata, Tuhan tidak pernah menyamakan kehidupan seluruh umat-Nya. Ada yang diberikan hidup tidak aman dan ada yang diberikan hidup aman selayaknya adikku. Aku selalu bertanya mengapa Tuhan melakukan itu dan mengapa tak semua anak kecil mendapat hidup yang baik seperti misalnya adik-adikku. Mengapa harus ada yang sekolahnya putus karena perekonomian yang tak cukup, atau mengapa harus ada yang tidurnya tidak tenang sebab orangtuanya kerap bertengkar, atau bahkan mengapa harus ada yang merasa ketakutan setiap waktu karena setiap waktu itu pula bisa saja ada penjahat yang menjatuhkan bom tiba-tiba dan sengaja tak sengaja melukainya. Mengapa?

Aku tahu tidak seharusnya aku bertanya seperti itu, sebab Tuhan lebih tahu segalanya. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi setiap makhluk yang diciptakannya. Tuhan juga punya maksud di balik yang telah Ia tetapkan. Anak-anak itu hidup bahagia, anak-anak yang lainnya hidup menderita itu tentu jadi ketetapan yang sudah Tuhan tentukan dengan rahasia maksud di baliknya.

Tapi, terus-terusan melihat adikku bahagia dan anak kecil lain menderita bukan suatu hal yang kusuka. Nenek-kakek buyutku mungkin pernah merasakan ini di Indonesia saat Belanda, Jepang, dan tentara sekutu menyerang habis-habisan Indonesia. Mulai dari menyerang secara politis hingga secara kekerasan. Jika ingat tentang bom Hiroshima dan Nagasaki, maka anak-anak yang berada di sana dan terkena bom begitu saja juga tentu pernah merasakan hal yang sama seperti yang anak-anak di Aleppo, Suriah kini rasakan. Atau pula anak-anak Palestina yang konfliknya tak juga selesai hingga kini dengan Israel.

Alhamdulillah-nya aku tidak merasakan masa perang dan konflik semacam itu. Aku menjalani masa kanak-kanak yang kurang lebih sama seperti adik kecilku. Tapi, aku tahu betul bagaimana tidak enaknya anak-anak kecil itu di sana. Aku yang begini saja masih merasa enak tak enak, apalagi mereka.

Tapi, inilah bagian yang paling menyebalkannya. Aku sungguh tidak tahu dan tidak mampu melakukan apapun selain do’a dan rasa sakitku setiap kali melihat mereka. Do’a jelas inshaaAllah sampai pada Tuhan, tapi rasa sedih dan sakitku ini melihat mereka? Apa itu cukup? Aku bukan bintang film atau artis yang dipuja hingga air matanya bahkan punya harga. Aku hanya mahasiswa biasa. Aku tak punya uang sebanyak yang mereka butuhkan. Aku juga tak punya kemampuan untuk bisa melindungi mereka dari bom-bom tak punya hati itu. Kekuatanku hanyalah rasa percaya bahwa Tuhan pasti punya maksud di balik semua ini dan bahwa Tuhan pasti mendengar dan mengabulkan do’aku untuk mereka. Pun do’a umat-Nya dan do’a orang-orang baik lainnya.