Aku punya adik kecil yang hidup serba berkecukupan, aman,
dan nyaman. Mereka punya Ayah, Ibu, dan kakak-kakak yang senantiasa menjaganya
dan memastikan hidup mereka dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, ternyata, Tuhan
tidak pernah menyamakan kehidupan seluruh umat-Nya. Ada yang diberikan hidup
tidak aman dan ada yang diberikan hidup aman selayaknya adikku. Aku selalu
bertanya mengapa Tuhan melakukan itu dan mengapa tak semua anak kecil mendapat
hidup yang baik seperti misalnya adik-adikku. Mengapa harus ada yang sekolahnya
putus karena perekonomian yang tak cukup, atau mengapa harus ada yang tidurnya
tidak tenang sebab orangtuanya kerap bertengkar, atau bahkan mengapa harus ada
yang merasa ketakutan setiap waktu karena setiap waktu itu pula bisa saja ada
penjahat yang menjatuhkan bom tiba-tiba dan sengaja tak sengaja melukainya.
Mengapa?
Aku tahu tidak seharusnya aku bertanya seperti itu, sebab
Tuhan lebih tahu segalanya. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi setiap makhluk
yang diciptakannya. Tuhan juga punya maksud di balik yang telah Ia tetapkan.
Anak-anak itu hidup bahagia, anak-anak yang lainnya hidup menderita itu tentu
jadi ketetapan yang sudah Tuhan tentukan dengan rahasia maksud di baliknya.
Tapi, terus-terusan melihat adikku bahagia dan anak kecil
lain menderita bukan suatu hal yang kusuka. Nenek-kakek buyutku mungkin pernah
merasakan ini di Indonesia saat Belanda, Jepang, dan tentara sekutu menyerang
habis-habisan Indonesia. Mulai dari menyerang secara politis hingga secara
kekerasan. Jika ingat tentang bom Hiroshima dan Nagasaki, maka anak-anak yang
berada di sana dan terkena bom begitu saja juga tentu pernah merasakan hal yang
sama seperti yang anak-anak di Aleppo, Suriah kini rasakan. Atau pula anak-anak
Palestina yang konfliknya tak juga selesai hingga kini dengan Israel.
Alhamdulillah-nya
aku tidak merasakan masa perang dan konflik semacam itu. Aku menjalani masa
kanak-kanak yang kurang lebih sama seperti adik kecilku. Tapi, aku tahu betul
bagaimana tidak enaknya anak-anak kecil itu di sana. Aku yang begini saja masih
merasa enak tak enak, apalagi mereka.
Tapi, inilah bagian yang paling menyebalkannya. Aku sungguh
tidak tahu dan tidak mampu melakukan apapun selain do’a dan rasa sakitku setiap
kali melihat mereka. Do’a jelas inshaaAllah sampai pada Tuhan, tapi rasa sedih
dan sakitku ini melihat mereka? Apa itu cukup? Aku bukan bintang film atau
artis yang dipuja hingga air matanya bahkan punya harga. Aku hanya mahasiswa
biasa. Aku tak punya uang sebanyak yang mereka butuhkan. Aku juga tak punya
kemampuan untuk bisa melindungi mereka dari bom-bom tak punya hati itu.
Kekuatanku hanyalah rasa percaya bahwa Tuhan pasti punya maksud di balik semua
ini dan bahwa Tuhan pasti mendengar dan mengabulkan do’aku untuk mereka. Pun do’a
umat-Nya dan do’a orang-orang baik lainnya.