Masih teringat olehku
kejadian dua hari lalu, kejadian yang telah merenggut semua rencana masa
depanku. Aku terduduk lemas pagi ini diatas kasur setengah – setengah ku. Ya,
setengah empuk setengah keras. Aku masih melamun, sesekali menghela napas yang entah
kenapa pagi ini lebih banyak dibanding kemarin. Masih melamun, tiba – tiba
suara asing membangunkanku. Tentu saja asing, aku hidup di ruangan dengan
puluhan orang lainnya yang tak kukenali sama sekali. Cuma satu suara yang
hingga saat ini bertahan di benakku. Tentu saja aku mengenalinya, suara ibu.
“Rana, ayo
sarapan. Kamu belum makan loh sejak tadi malam”. Ibu mendekat kearahku,
menatapku sejenak dengan wajah sendunya yang penuh ketulusan. Aku masih duduk,
diam, sambil sesekali menangkap sosoknya disudut mataku. “Rana… ayo sayang”.
Kali ini ibu duduk disampingku lalu merangkulku. Mataku buram, dadaku mulai
sesak, dan…. Air mataku pun menetes, ibu memelukku. Entah keras atau tidak,
tangisanku mampu membuat suara asing di ruangan itu hilang. Orang – orang asing
itu lalu diam sejenak, beberapa dari mereka yang sejak tadi bermain bahkan
berhenti dan menatap aku dan ibu. Ibu sibuk memeluk dan mengusap punggungku.
Dadaku masih sesak bahkan makin sesak. “Maafkan aku ibu…” aku berbisik.
No comments:
Post a Comment