Bisa saja seseorang yang sedang menemani malammu atau yang memang selalu menemani malam - malammu dengan berjuta kalimat di setiap pesannya hanya terpaksa melakukan itu. Tak kuat melihatmu terluka deminya. Lantas ia sukarela membalas pesan - pesan mu dengan senyuman penuh pa-k-sa-an
Disini, di dunia yang penuh ke- pura - pura an.
Ada pula orang - orang yang berpura - pura mendekatimu, memberikan setiap perhatiannya padamu, dengan maksud yang berbeda. Di balik itu, ada kebencian yang meradang. Kebencian yang menginginkan melihat dirimu terluka. Saat ia telah berhasil merebut hatimu. Maka ia menjalankan rencana selanjutnya. Meninggalkanmu. Mencampakkanmu.
Disini, di dunia yang penuh ke- pura - pura an.
Seseorang berpura - pura mencintaimu, menaruh hati padamu, memperhatikanmu. Ia tak benci padamu tak juga kasian padamu. Ia bahkan nampak terluka saat melihatmu terluka. Ia juga memasang wajah sendu saat melihatmu menangis pilu. Ia tak benci tak juga kasian padamu. Ia hanya punya suatu kepentingan yang mengharuskannya mendekatimu.
Disini, di dunia yang penuh ke- pura - pura an.
Semua orang dapat memilih perannya masing - masing. Mereka bisa menjalankan peran itu sesuai yang tertulis. Namun ia juga mampu memutar balikkan peran itu dan menjadikannya nampak sempurna di matamu. Tak ada yang salah. Tak ada yang aneh.
Disini, di dunia yang penuh ke- pura - pura an.
Kamu mungkin adalah orang terbodoh yang satu - satunya percaya pada segala kepura-puraan dunia dan isinya. Kamu mungkin adalah orang yang paling malang. Karena kamu selalu mempercayai hal yang ternyata sebaliknya. Dusta. Palsu.
Disana, di suatu tempat.
Kamu mungkin sedang menyadari sesuatu saat membaca ini. Menyadari kalau selama ini ada yang berpura - pura, ada yang menempelkan topeng - topengnya begitu rekat hanya untuk memperdayaimu. Kamu telah tersadar bukan? Kalau kamu amat bodoh? Iya?
Disini, di dasar hati yang kebiruan.
Iya, aku baru saja menyadarinya...
16 Maret 2015
Dalam kesadaran yang luar biasa utuh
Dinda Ramayulis
No comments:
Post a Comment