Tuesday, June 21, 2016

Sabina Masih Sakit

Sabina kecil bersemangat menyambut ayahnya di depan rumah. Ayahnya bilang, ia akan membawa satu eksemplar koran yang memuat tulisan cerita pendeknya. Sudah 1 jam Sabina menunggu duduk dengan tenang di teras rumahnya. Ibu berkali-kali memanggilnya masuk, namun ia tetap bersikukuh duduk disana. Ia tak ingin melewatkan melihat tulisannya dimuat di koran tersebut. 
Saat jam dinding di dalam rumah berdentang, sebuah taksi berhenti di depan rumah. Mata Sabina yang kecil dan belo melotot sedemikian rupa. Ia memperhatikan seksama siapa yang muncul dari balik pintu taksi itu. 
“Ayah!!!” Sabina meloncat mengejar ayahnya. “Mana korannya, Yah? Mana?” Lengan Sabina menyisir tas dan genggaman Ayahnya. Namun, Sabina seketika berhenti ketika mendapati sebuah amplop warna coklat. Anak perempuan itu, walau usianya baru saja 10 tahun, tetap saja paham tentang amplop. Ia tahu itu adalah sebuah surat penting dan ia juga tahu jika bukan koran yang ayah bawakan berarti amplop itu sebagai pengganti. Tapi, Sabina sama sekali tak paham jika amplop itu ternyata pertanda buruk. 
Sabina mengambil amplop itu dan tanpa menghiraukan kata-kata Ayahnya, ia membukanya. Ia duduk di kursi teras rumah itu sambil membaca kata demi kata yang tertulis dalam surat di amplop itu. Ibu keluar rumah menatap Ayah sambil seakan bertanya “apa yang terjadi?” Tapi raut wajah Ayah telah menjawab semuanya. 
“Tak apa-apa! Sabina masih punya cerpen lainnya. Nanti, Sabina akan kirim yang lain.” Sabina meninggalkan surat dan amplop itu di kursi teras. Ia melenggang ke dalam rumah. Ayah dan Ibu bingung sebab tak ada raut sedih sedikitpun di wajah buah hati mereka. Setidaknya, tugas Ayah berkurang. Ia tak harus menghibur Sabina yang dikiranya akan menangis dua hari dua malam dan tidak mau makan. Di dasar hati paling dalam, Ayah bangga pada gadis kecilnya. Ternyata, Sabina jauh lebih dewasa dibandingkan pemikirannya. Ayah lega. Namun, satu yang tak Ayah ketahui, surat itu menjadi awal penyakit Sabina yang baru sembuh 20 tahun lamanya. 

Ucapan selamat memenuhi ruangan kelas pagi itu. Ghea, Jihan, Wandi, Ira, dan Daniel sebaliknya, mengucapkan banyak terima kasih. Tulisan mereka dimuat di media cetak nasional pagi itu. Ghea menulis berita khas travelling dan dimuat di majalah travel terkenal, Jihan menulis cerita pendek yang dimuat di koran nasional dan sekaligus menjadi pemenang cerpen terbaik edisi bulan itu, Wandi menulis berita langsung dan menjadi headline koran nasional, kumpulan puisi Ira dimuat di koran nasional, dan berita khas Daniel dimuat di majalah berita nasional. Sabina sudah mengucapkan selamat kepada kelimanya ketika sampai di kelas tadi. Ia juga sudah melihat tulisan-tulisan mereka. Membaca bagian awalnya dan akhirnya lalu memuji sedikit tulisan teman-temannya. Kini, ia duduk di kursinya di baris kedua paling pojok dekat dengan jendela. Ia membuka buku hariannya. Ditulisnya satu buah kalimat, “Aku takut.” 
Siang harinya, Sabina masih gemetar membayangkan pagi hari tadi. Begitu mudah tulisan teman-temannya itu dimuat. Apalagi Jihan, cerita pendeknya selalu menjadi pemenang dalam berbagai lomba cerita pendek. Padahal, cerpen Sabina dan Jihan toh tidak jauh berbeda. Apalagi, Jihan baru menulis sejak duduk di bangku SMP, sedangkan Sabina telah menulis bahkan sejak dirinya baru bisa menulis. Lalu berita. Hei, bukankah berita yang dimuat itu adalah hasil tugas yang diberikan dosen? Kualitasnya sama saja dong? Temanya bahkan biasa saja. Hanya seputar realitas di kotanya. Tapi mengapa dimuat? Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di benak Sabina. Ia lagi-lagi takut. Entah berapa halaman buku hariannya hanya bertuliskan kata-kata itu. 
Ia sangat butuh dilahirkan kembali. Setidaknya, ketika dulu memutuskan untuk menerima tawaran Ayahnya mengirimkan tulisan ke koran, ia mempertimbangkannya terlebih dahulu. Bisa saja, ia berhari-hari membaca berkali-kali semua cerpennya lalu menilainya sendiri atau mungkin meminta Ayah dan teman dekatnya menilai tulisan itu baru kemudian memutuskan akan dikirim atau tidak. Bodohnya, ia baru melakukan hal tersebut setelah menerima amplop penolakan itu. 

“Hana dan Hani, Janji Keyla pada Bunda, Sore bersama Paman, Melihat Matahari, Seragam Baru yang Lusuh, Bulan Tersenyum Padaku, Hari.. Ehm... Tidak... Mangga..., Arrrgggh! Bodoh sekali! Tulisan ini jelek dan menjijikkan!” Sabina melempar mouse komputernya. Ia bangun dari kursi belajarnya dan melompat ke atas kasur. Ia meringkuk memeluk kakiknya. Tangisannya pecah. Malam itu, bulan menatap Sabina iba. Ia tak henti menangis dan menyesali keputusannya. Kalau saja ia sadar lebih awal bahwa tulisan itu tak sekedar hanya sampah, ia mungkin masih memiliki kepercayaan diri yang cukup bahkan hingga bertahun-tahun kemudian. Namun, ia bodoh sekali. Ia malah nekat mengirimkan tulisan itu. Ia nekat mencabut duri yang tertancap pada kakinya. Ia merasa sangat bodoh. Kini, ia Cuma bisa menulis “aku takut” di setiap lembar buku hariannya. Ia telah dikalahkan dirinya sendiri dan penyakit itu. 

“Sabina!” Lamunannya dibangunkan suara Yasha yang langsung duduk di sampingnya. “Kamu makan sendirian aja?” Sabina mengangguk. Ia lalu menyendok kuah bakso yang telah dingin itu. “Hmm, aku ikut makan ya! Tapi temenin aku sampe selesai, hehe” Yasha nyengir dan Sabina mengangguk lagi. “Bang, baksonya satu, gausah pake sayur dan pedes ya!” “Pake sayur sha, kasian perut kamu gak dapat gizi yang lengkap!” Sabina buka mulut. Ia tak pernah bisa betul-betul dalam merasakan sesuatu. Ia selalu bersikap biasa seolah hidupnya sangat bahagia sampai Ayah dan Ibu pun tak pernah sadar tentang penyakitnya itu. 
Yasha hanya membalas dengan tawa. Sejak kecil, ia memang anti sayur sedangkan Sabina pecinta sayur. 
“So, what’s story?” Sabina memulai pembicaraan. 
“Hari ini, boleh lah  Ghea, Jihan, Wandi, Ira, dan Daniel bersenang ria. Besok, tunggu tulisanku di majalah film ya!”
“Kamu mengirimkan berita tentang film? Diskusi film Jepang yang di Bandung waktu itu?” Sabina bertanya semangat, padahal getaran ketakutan telah mulai bermunculan. 
“Iya! Tapi gak itu aja.”
“Then?”
“Review tiga film terburuk tahun ini,”
Mata Sabina melotot, “So, you’re really gonna againt that movies?”
“Iyalah, hahaha. Review aku itu udah dibandingkan dengan film lain yang genrenya sama dan film yang ada di tahun itu juga film lainnya deh. Trus juga review itu ada opini dari banyak orang,” Yasha tertawa sesaat. 
“Kamu yakin akan dimuat?” Sabina bertanya dengan hati-hati.
“Tidak ada kekuatan yang lebih besar dibandingkan keyakinan, Sab.” Yasha menyendok suapan bakso pertamanya sedangkan Sabina seakan merasa asing dengan kata ‘keyakinan’ itu. Ia seakan tidak lagi mengenal kata tersebut. Lama sekali ia hidup tanpa ada kata itu. Entah sampai kapan. 
“Tugas berita khas kamu yang kemarin udah dikirim?” Sabina menoleh pada Yasha. Ia menggeleng. “Kenapa?” Sabina terdiam sesaat namun Yasha berbicara lagi. “Tulisan kamu yang tentang nasib buruh perempuan di keren loh!” Sabina hanya tersenyum. Yasha menatapnya bingung. “Nanti, aku coba kirimkan,” kepalsuan ke sekian kalinya Sabina. 
Sejak kapan ia mau mengirimkan tulisannya lagi setelah menerima amplop itu? Ia tak pernah punya kekuatan yang paling kuat itu lagi. Penyakitnya belum juga bisa tersembuhkan. Amplop itu telah merenggut segalanya dan malah memberikan penyakit yang paling dibencinya. 

Sabina masih sakit pun hingga tulisan ini lahir.

No comments:

Post a Comment