Saturday, August 27, 2016

In The Morning of August 16th


Life is completely a mistery. I don’t even can guess what is gonna happen. Sometimes, i choose the good opening but then end up with the very bad closing. This morning i feel happy and then at night i sleep with tears all over my face. I don’t know about me and my life. I am a fool. I don’t have any idea about anything in my life.


Hari ini, aku menonton sebuah film berjudul Still Alice. Film yang sangat menyentuh tentang seorang wanita dewasa, sukses, bahagia, memiliki suami yang sangat mencintainya, dan memiliki anak-anak yang juga sangat mencintainya sekaligus peduli padanya. Tiba-tiba, di tengah karirnya yang naik daun dan kebahagiaannya tentang keluarganya, ia merasa ada yang aneh tentang otaknya. Ia sulit mengingat kata, kalimat, benda, momen, dan seseorang; Ia kadang merasa pusing; dan gejala aneh lainnya.
            Ia pun memutuskan untuk memeriksakan keadaanya ke ahli syaraf dan ia mendapatkan jawaban yang sangat mengecewakan. Ia positif mengalami Alzheimer. Perlahan, hidupnya mulai berantakan. Kinerjanya sebagai seorang dosen menurun dan ingatannya tentang hal penting dalam hidupnya juga menghilang. Tapi, satu hal unik dalam film ini plus kisahnya adalah kasih sayang dan cinta dari suami dan anak-anaknya yang tak pernah luntur sedikitpun untuknya.
            Sebelum ia benar-benar kehilangan seluruh ingatannya, ia membuat sebuah video yang sederhananya menyuruhnya untuk bunuh diri. Sejak awal, Alice sudah putus asa dan pesimis, tapi yang menyelamatkannya adalah ia punya penyakit Alzheimer, dimana ia lupa hal-hal kecil. Ia lupa tentang video itu. Bahkan ketika ia tak sengaja membuka video itu, ia kesulitan untuk mengikuti instruksi dari video yang dibuatnya sendiri. Akhirnya, ia gagal bunuh diri. Ini seperti bad is the new good. Bahwa hal yang buruk-penyakit Alice-menjadi satu-satunya penolong untuknya untuk tidak jadi bunuh diri.
Film serupa ini juga pernah aku tonton. Judulnya adalah Miracles From Heaven. Tapi, saat menonton film itu, aku mengambil pelajaran yang paling berharga tentang kepercayaan-believe. Kini, aku menemukan pelajaran berharga lainnya tentang cinta. Miracles From Heaven bercerita tentang seorang anak perempuan berusia sekitar 6 tahun yang tiba-tiba mengidap penyakit langka pada bagian sistem pencernaannya-aku lupa nama penyakitnya. Ia memiliki seorang ibu, ayah, dan dua orang saudara perempuan yang selalu setia merawat dan memberinya doa dan dukungan. Berbeda dengan Still Alice, di akhir cerita, anak ini sembuh total dari penyakitnya sebab suatu kejadian aneh, yaitu ia jatuh dari pohon setinggi beberapa meter. Maka dari itu, judul film ini terdapat kata Miracles. Kata tersebut diambil dari sebuah keajaiban yang terjadi saat terjatuhnya anak itu dari pohon.
Dua kisah itu memiliki kesamaan, bahwa baik Alice atau pun anak kecil itu memiliki keluarga yang selalu mencintainya dan memberi dukungan padanya di masa-masa tersulit mereka. Bahkan saat Alice terlihat amat bodoh karena melupakan banyak hal dan terlihat pucat setiap saat juga sulit berbicara, suami dan anak-anaknya tak pernah memandangnya bodoh. Anak termudanya yang tidak terlalu dekat dengan Alice pun mau mengorbankan mimpinya demi merawat ibunya. Dan dua anak lainnya selalu setia menemani Alice kemanapun dan dimanapun. Dalam Miracles From Heaven, sang ibu tidak pernah menyerah memperjuangkan hak anaknya untuk dirawat oleh dokter anak khusus.
Alice dan Annabelle (anak kecil dalam Miracles From Heaven) adalah dua orang di dunia ini yang beruntung. Mereka diberi sakit, tapi mereka diberi cinta yang banyak dan orang-orang terkasih dalam hidup mereka. Mereka tetap bisa melanjutkan hidup sebab mereka memiliki kunci itu untuk hidup, yaitu cinta.
Aku teringat tentang Oma ku yang beberapa waktu lalu dijemput Yang Maha Kuasa. Oma memiliki empat orang anak, seorang suami, 14 cucu, dan empat orang menantu. Kesemuanya memiliki cinta untuk Oma. Bahkan, cucunya yang masih kecil pun, yaitu berusia sekitar 6 tahun memiliki rasa itu untuk Oma. Ia adalah adikku. Baru saja kemarin, ia mengatakan padaku ingin ke Padang. Ia bilang ingin melihat Oma. Ketika aku bilang bahwa Oma sudah meninggal, wajahnya berubah murung lalu ia mengatakan bahwa ia ingin melihat pemakaman Oma. Terakhir, ia juga bilang, ia merindukan Oma.
Ketika Oma sakit untuk waktu yang cukup lama-sekitar 2-4 bulan, Oma tidak pernah sendiri. Anak dan cucunya selalu berada di sampingnya untuk setia menjaganya pagi, siang, malam; mendengarkan keluhannya tentang sakit yang ia rasakan; menggantikan baju dan popoknya; memandikannya; memberikannya makan; memijatnya; mengajaknya mengobrol; dan hal lainnya.
Oma adalah salah satu yang beruntung. Ia memiliki cinta di sekililingnya. Ia tidak pernah benar-benar ditinggalkan sendiri. Ungku-suami Oma yang sudah agak pelupa bahkan membantu mengurusnya, marah jika ada yang mengganggunya, setia menggenggam tangannya saat ia berada antara hidup dan mati.
Oma, Alice, dan Annabelle hanyalah beberapa orang yang beruntung. Ada pula kisah lain. Kisah yang menyakitkan. Orang-orang yang tetap melanjutkan hidup walau cinta yang ia miliki hanya sedikit. Aku teringat dengan kisah yang ibuku ceritakan di sela-sela merawat Oma.
Ia adalah seorang wanita sukses dan kaya raya, memiliki kakak laki-laki dan suami. Sayang, suaminya adalah orang yang menyia-nyiakan harta istrinya hingga ketika wanita itu sakit dan hartanya habis, sang suami pergi meninggalkannya. Ia tak punya anak dan ia pun tinggal sendiri. Suatu saat, tetangga menemukannya di dalam rumah dalam keadaan yang amat buruk. Ia segera dilarikan ke rumah sakit dan beberapa saat kemudian meninggal tepat beberapa hari sebelum Oma menyusulnya.
Ada pula kisah seorang wanita yang memiliki suami dan beberapa anak. Aku agak lupa detil ceritanya, tapi yang pasti karena orang ketiga, sang suami meninggalkannya dan anak-anaknya. Sang suami adalah satu-satunya penopang perekonomian keluarga sehingga ketika sang suami pergi, ia kehilangan hartanya untuk membesarkan anak-anaknya. Kini, ia pun berjualan dan anak-anaknya putus sekolah.
Kedua cerita itu adalah kisah yang menggambarkan bahwa tidak semua orang punya cinta dan tidak semua orang seberuntung Oma, Alice, dan Annabelle. Aku pun mungkin tidak seberuntung mereka. Atau mungkin aku malah lebih buruk dari kisah tersebut. Tidak ada yang tahu.
Kini, aku memang masih kuat. Aku bisa mengingat banyak hal dan bisa mendapatkan ipk dan nilai-nilai yang memuaskan. Aku juga bisa jalan, menyetir mobil, berbicara dengan orang-orang, dan melakukan banyak hal yang kusuka. Aku memiliki tubuh yang sehat, wajah yang cantik, dan barang-barang yang bagus. Aku memiliki orangtua dan adik-adik yang menyayangiku. Kini, aku memiliki semuanya. Tapi, nanti? Who knows? Mungkin, aku akan kehilangan semuanya dan tinggallah aku dengan penyakitku sendiri sambil berusaha bertahan hidup. Tidak semua orang seberuntung Oma, Alice, dan Annabelle kan?
Pertanyaan demi pertanyaan menggantung di otakku. Apa yang akan terjadi denganku beberapa menit kemudian, besok hari, minggu depan, tahun depan, puluhan tahun depan? Akan jadi apa aku? Siapa laki-laki yang akan menjadi seperti suami Alice yang setia disamping istrinya saat buruk atau bahagia? Atau apakah aku akan mendapatkan laki-laki seperti itu? Apakah aku akan punya anak yang akan mencintaiku dan mau mengurusku? Apakah orangtuaku akan hidup lama dan bisa terus berada di sampingku? Apakah adik-adikku akan peduli pada kakaknya ini di masa mendatang? Apakah aku masih bisa makan enak setiap hari nantinya? Apakah aku masih akan punya tubuh yang kuat nanti? Akan seperti apa hidupku di masa mendatang? Apa kisah yang Tuhan rencanankan untukku? Akankah itu bahagia? Atau bahkan sedih? Akankah itu sesuai dengan yang aku juga rencanakan? Atau bahkan apakah setelah menulis ini aku masih tetap hidup? Akankah aku akan menerima dan bersyukur akan semua itu?
Semua pertanyaan itu menggerogoti isi otakku. Menghancurkanku perlahan. Membuatku tak berdaya setiap kali dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam hidupku dan setiap kali aku menatap ayah, ibu, dan adik-adikku. Hidup ini sebuah rahasia. Masa lalu, sekarang, dan mendatang. Aku ingat masa laluku, tapi hingga sekarang aku tak pernah benar-benar mengerti maksud semua itu-mengapa terjadi? Apa maksud Tuhan? Dan lainnya.
Masa sekarang? Aku bahkan bingung kenapa tiba-tiba aku bisa berkuliah Jurnalistik Unpad yang bahkan aku tak pernah baca koran dan benci melakukan liputan. Aku juga bingung kenapa aku berada di kamar kost ku ini, mengetik tentang perasaanku, menonton film, membagikannya pada semua orang. Aku tak pernah tahu maksud setiap adegan dalam hidupku. Mungkin aku bodoh-terserahlah-sebab aku seakan-akan melakukan semua ini tanpa tujuan.
Percayalah, aku adalah orang yang sangat terencana. Setiap hari sebelum tidur, aku menulis daftar hal-hal yang akan kulakukan esok hari. Tentu aku memiliki tujuan dan dasar melakukan semua itu. Hanya saja, aku tak pernah paham kenapa Tuhan mengizinkanku melakukan semua daftar itu dan kenapa kadang apa yang terjadi esok harinya tidak sesuai dengan daftar yang kutulis. Kadang, ya! Aku penasaran tentang hal ‘kenapa’ itu. Tapi, aku tahu semua itu adalah rahasia/misteri. Aku hanya ingin bertanya tapi tak perlu lah dijawab.
Dalam ilmu komunikasi, kita bisa memprediksi lawan bicara kita saat berkomunikasi. Kita juga bisa memprediksi keadaan. Dalam dunia kedokteran, dokter juga bisa memprediksi kematian seseorang tergantung dari kondisi kesehatannya. Tapi, satu hal yang tidak akan pernah bisa kita prediksi, yaitu masa depan. Apalagi, bergantung pada apa yang terjadi hari ini. (terserah orang-orang mau percaya atau tidak)
Kini, kamu memiliki keluarga dan rekan-rekan yang amat mencintaimu. Tapi, nanti? TIDAK PERNAH ADA YANG TAHU kecuali Tuhan siapa yang akan mencintaimu. Bisa saja mereka pergi lebih dulu. Lalu satu-satunya yang kamu miliki hanyalah cinta dari Tuhan dan dirimu sendiri.
Setiap hari, aku selalu berdoa, berharap setidaknya jika suatu saat aku harus sakit, setidaknya aku memiliki keluarga seperti yang Oma, Alice, dan Annabelle miliki. Tapi, aku juga selalu ingat bahwa apa yang terjadi esok tak selalu sama dengan daftar yang kutulis.  Maka, akhirnya yang kupunya adalah believe, trust, and faith. Aku percaya pada Tuhan bahwa cerita milikku adalah yang terbaik yang pernah Tuhan tulis untukku. Tak peduli seberapa bagus kisah yang ada pada film dan novel, kisahku lah yang terbaik, apalagi yang menulisnya adalah Maha segala-galanya.
Love and Faith. Key of life. 

No comments:

Post a Comment