Life is completely a mistery. I don’t even can guess what
is gonna happen. Sometimes, i choose the good opening but then end up with the
very bad closing. This morning i feel happy and then at night i sleep with
tears all over my face. I don’t know about me and my life. I am a fool. I don’t
have any idea about anything in my life.
Hari
ini, aku menonton sebuah film berjudul Still
Alice. Film yang sangat menyentuh tentang seorang wanita dewasa, sukses,
bahagia, memiliki suami yang sangat mencintainya, dan memiliki anak-anak yang
juga sangat mencintainya sekaligus peduli padanya. Tiba-tiba, di tengah
karirnya yang naik daun dan kebahagiaannya tentang keluarganya, ia merasa ada
yang aneh tentang otaknya. Ia sulit mengingat kata, kalimat, benda, momen, dan
seseorang; Ia kadang merasa pusing; dan gejala aneh lainnya.
Ia pun memutuskan untuk memeriksakan
keadaanya ke ahli syaraf dan ia mendapatkan jawaban yang sangat mengecewakan.
Ia positif mengalami Alzheimer. Perlahan, hidupnya mulai berantakan. Kinerjanya
sebagai seorang dosen menurun dan ingatannya tentang hal penting dalam hidupnya
juga menghilang. Tapi, satu hal unik dalam film ini plus kisahnya adalah kasih
sayang dan cinta dari suami dan anak-anaknya yang tak pernah luntur sedikitpun
untuknya.
Sebelum ia benar-benar kehilangan
seluruh ingatannya, ia membuat sebuah video yang sederhananya menyuruhnya untuk
bunuh diri. Sejak awal, Alice sudah putus asa dan pesimis, tapi yang
menyelamatkannya adalah ia punya penyakit Alzheimer, dimana ia lupa hal-hal
kecil. Ia lupa tentang video itu. Bahkan ketika ia tak sengaja membuka video
itu, ia kesulitan untuk mengikuti instruksi dari video yang dibuatnya sendiri.
Akhirnya, ia gagal bunuh diri. Ini seperti bad
is the new good. Bahwa hal yang buruk-penyakit Alice-menjadi satu-satunya
penolong untuknya untuk tidak jadi bunuh diri.
Film serupa ini juga pernah aku tonton. Judulnya adalah Miracles From Heaven. Tapi, saat
menonton film itu, aku mengambil pelajaran yang paling berharga tentang
kepercayaan-believe. Kini, aku
menemukan pelajaran berharga lainnya tentang cinta. Miracles From Heaven bercerita tentang seorang anak perempuan
berusia sekitar 6 tahun yang tiba-tiba mengidap penyakit langka pada bagian
sistem pencernaannya-aku lupa nama penyakitnya. Ia memiliki seorang ibu, ayah,
dan dua orang saudara perempuan yang selalu setia merawat dan memberinya doa
dan dukungan. Berbeda dengan Still Alice,
di akhir cerita, anak ini sembuh total dari penyakitnya sebab suatu
kejadian aneh, yaitu ia jatuh dari pohon setinggi beberapa meter. Maka dari
itu, judul film ini terdapat kata Miracles.
Kata tersebut diambil dari sebuah keajaiban yang terjadi saat terjatuhnya
anak itu dari pohon.
Dua kisah itu memiliki kesamaan, bahwa baik Alice atau
pun anak kecil itu memiliki keluarga yang selalu mencintainya dan memberi
dukungan padanya di masa-masa tersulit mereka. Bahkan saat Alice terlihat amat
bodoh karena melupakan banyak hal dan terlihat pucat setiap saat juga sulit
berbicara, suami dan anak-anaknya tak pernah memandangnya bodoh. Anak
termudanya yang tidak terlalu dekat dengan Alice pun mau mengorbankan mimpinya
demi merawat ibunya. Dan dua anak lainnya selalu setia menemani Alice kemanapun
dan dimanapun. Dalam Miracles From
Heaven, sang ibu tidak pernah menyerah memperjuangkan hak anaknya untuk
dirawat oleh dokter anak khusus.
Alice dan Annabelle (anak kecil dalam Miracles From Heaven) adalah dua orang
di dunia ini yang beruntung. Mereka diberi sakit, tapi mereka diberi cinta yang
banyak dan orang-orang terkasih dalam hidup mereka. Mereka tetap bisa
melanjutkan hidup sebab mereka memiliki kunci itu untuk hidup, yaitu cinta.
Aku teringat tentang Oma ku yang beberapa waktu lalu
dijemput Yang Maha Kuasa. Oma memiliki empat orang anak, seorang suami, 14
cucu, dan empat orang menantu. Kesemuanya memiliki cinta untuk Oma. Bahkan,
cucunya yang masih kecil pun, yaitu berusia sekitar 6 tahun memiliki rasa itu
untuk Oma. Ia adalah adikku. Baru saja kemarin, ia mengatakan padaku ingin ke
Padang. Ia bilang ingin melihat Oma. Ketika aku bilang bahwa Oma sudah
meninggal, wajahnya berubah murung lalu ia mengatakan bahwa ia ingin melihat
pemakaman Oma. Terakhir, ia juga bilang, ia merindukan Oma.
Ketika Oma sakit untuk waktu yang cukup lama-sekitar 2-4
bulan, Oma tidak pernah sendiri. Anak dan cucunya selalu berada di sampingnya
untuk setia menjaganya pagi, siang, malam; mendengarkan keluhannya tentang
sakit yang ia rasakan; menggantikan baju dan popoknya; memandikannya;
memberikannya makan; memijatnya; mengajaknya mengobrol; dan hal lainnya.
Oma adalah salah satu yang beruntung. Ia memiliki cinta
di sekililingnya. Ia tidak pernah benar-benar ditinggalkan sendiri. Ungku-suami
Oma yang sudah agak pelupa bahkan membantu mengurusnya, marah jika ada yang
mengganggunya, setia menggenggam tangannya saat ia berada antara hidup dan
mati.
Oma, Alice, dan Annabelle hanyalah beberapa orang yang
beruntung. Ada pula kisah lain. Kisah yang menyakitkan. Orang-orang yang tetap
melanjutkan hidup walau cinta yang ia miliki hanya sedikit. Aku teringat dengan
kisah yang ibuku ceritakan di sela-sela merawat Oma.
Ia adalah seorang wanita sukses dan kaya raya, memiliki
kakak laki-laki dan suami. Sayang, suaminya adalah orang yang menyia-nyiakan
harta istrinya hingga ketika wanita itu sakit dan hartanya habis, sang suami
pergi meninggalkannya. Ia tak punya anak dan ia pun tinggal sendiri. Suatu
saat, tetangga menemukannya di dalam rumah dalam keadaan yang amat buruk. Ia
segera dilarikan ke rumah sakit dan beberapa saat kemudian meninggal tepat
beberapa hari sebelum Oma menyusulnya.
Ada pula kisah seorang wanita yang memiliki suami dan
beberapa anak. Aku agak lupa detil ceritanya, tapi yang pasti karena orang
ketiga, sang suami meninggalkannya dan anak-anaknya. Sang suami adalah
satu-satunya penopang perekonomian keluarga sehingga ketika sang suami pergi,
ia kehilangan hartanya untuk membesarkan anak-anaknya. Kini, ia pun berjualan
dan anak-anaknya putus sekolah.
Kedua cerita itu adalah kisah yang menggambarkan bahwa
tidak semua orang punya cinta dan tidak semua orang seberuntung Oma, Alice, dan
Annabelle. Aku pun mungkin tidak seberuntung mereka. Atau mungkin aku malah
lebih buruk dari kisah tersebut. Tidak ada yang tahu.
Kini, aku memang masih kuat. Aku bisa mengingat banyak
hal dan bisa mendapatkan ipk dan nilai-nilai yang memuaskan. Aku juga bisa
jalan, menyetir mobil, berbicara dengan orang-orang, dan melakukan banyak hal
yang kusuka. Aku memiliki tubuh yang sehat, wajah yang cantik, dan
barang-barang yang bagus. Aku memiliki orangtua dan adik-adik yang
menyayangiku. Kini, aku memiliki semuanya. Tapi, nanti? Who knows? Mungkin, aku akan kehilangan semuanya dan tinggallah aku
dengan penyakitku sendiri sambil berusaha bertahan hidup. Tidak semua orang
seberuntung Oma, Alice, dan Annabelle kan?
Pertanyaan demi pertanyaan menggantung di otakku. Apa
yang akan terjadi denganku beberapa menit kemudian, besok hari, minggu depan,
tahun depan, puluhan tahun depan? Akan jadi apa aku? Siapa laki-laki yang akan
menjadi seperti suami Alice yang setia disamping istrinya saat buruk atau
bahagia? Atau apakah aku akan mendapatkan laki-laki seperti itu? Apakah aku
akan punya anak yang akan mencintaiku dan mau mengurusku? Apakah orangtuaku
akan hidup lama dan bisa terus berada di sampingku? Apakah adik-adikku akan
peduli pada kakaknya ini di masa mendatang? Apakah aku masih bisa makan enak
setiap hari nantinya? Apakah aku masih akan punya tubuh yang kuat nanti? Akan
seperti apa hidupku di masa mendatang? Apa kisah yang Tuhan rencanankan
untukku? Akankah itu bahagia? Atau bahkan sedih? Akankah itu sesuai dengan yang
aku juga rencanakan? Atau bahkan apakah setelah menulis ini aku masih tetap
hidup? Akankah aku akan menerima dan bersyukur akan semua itu?
Semua pertanyaan itu menggerogoti isi otakku.
Menghancurkanku perlahan. Membuatku tak berdaya setiap kali dihadapkan pada
pilihan-pilihan dalam hidupku dan setiap kali aku menatap ayah, ibu, dan
adik-adikku. Hidup ini sebuah rahasia. Masa lalu, sekarang, dan mendatang. Aku
ingat masa laluku, tapi hingga sekarang aku tak pernah benar-benar mengerti
maksud semua itu-mengapa terjadi? Apa maksud Tuhan? Dan lainnya.
Masa sekarang? Aku bahkan bingung kenapa tiba-tiba aku
bisa berkuliah Jurnalistik Unpad yang bahkan aku tak pernah baca koran dan
benci melakukan liputan. Aku juga bingung kenapa aku berada di kamar kost ku
ini, mengetik tentang perasaanku, menonton film, membagikannya pada semua
orang. Aku tak pernah tahu maksud setiap adegan dalam hidupku. Mungkin aku
bodoh-terserahlah-sebab aku seakan-akan melakukan semua ini tanpa tujuan.
Percayalah, aku adalah orang yang sangat terencana.
Setiap hari sebelum tidur, aku menulis daftar hal-hal yang akan kulakukan esok
hari. Tentu aku memiliki tujuan dan dasar melakukan semua itu. Hanya saja, aku
tak pernah paham kenapa Tuhan mengizinkanku melakukan semua daftar itu dan
kenapa kadang apa yang terjadi esok harinya tidak sesuai dengan daftar yang
kutulis. Kadang, ya! Aku penasaran tentang hal ‘kenapa’ itu. Tapi, aku tahu
semua itu adalah rahasia/misteri. Aku hanya ingin bertanya tapi tak perlu lah
dijawab.
Dalam ilmu komunikasi, kita bisa memprediksi lawan bicara
kita saat berkomunikasi. Kita juga bisa memprediksi keadaan. Dalam dunia
kedokteran, dokter juga bisa memprediksi kematian seseorang tergantung dari
kondisi kesehatannya. Tapi, satu hal yang tidak akan pernah bisa kita prediksi,
yaitu masa depan. Apalagi, bergantung pada apa yang terjadi hari ini. (terserah
orang-orang mau percaya atau tidak)
Kini, kamu memiliki keluarga dan rekan-rekan yang amat mencintaimu. Tapi, nanti? TIDAK PERNAH ADA YANG TAHU kecuali Tuhan siapa yang akan mencintaimu. Bisa saja mereka pergi lebih dulu. Lalu satu-satunya yang kamu miliki hanyalah cinta dari Tuhan dan dirimu sendiri.
Setiap hari, aku selalu berdoa, berharap setidaknya jika
suatu saat aku harus sakit, setidaknya aku memiliki keluarga seperti yang Oma,
Alice, dan Annabelle miliki. Tapi, aku juga selalu ingat bahwa apa yang terjadi
esok tak selalu sama dengan daftar yang kutulis. Maka, akhirnya yang kupunya adalah believe, trust, and faith. Aku percaya
pada Tuhan bahwa cerita milikku adalah yang terbaik yang pernah Tuhan tulis
untukku. Tak peduli seberapa bagus kisah yang ada pada film dan novel, kisahku
lah yang terbaik, apalagi yang menulisnya adalah Maha segala-galanya.
Love and Faith. Key of
life.
No comments:
Post a Comment