Hujan turun sejak malam kemarin.
Pagi ini, hujan masih seakan marah mengahantam rerumputan, lapangan,
jalan-jalan, dan atap rumah. Bunyinya memekikkan telinga membuat seisi kota
riuh padahal tak ada seorang pun berbicara. Orang-orang yang bergantian melewati
trotoar toko-toko alat tulis dan kue hanya diam sambil memandang lurus ke
depan. Tangannya sigap menggenggam payung dan kaki-kakinya melangkah dengan
cepatnya. Mereka seakan tak sudi menghabiskan waktu lama untuk melewati hujan
yang tidak berperi kemanusiaan ini.
Seorang wanita duduk di depan
emperan salah satu toko yang terpajang di sepanjang trotoar itu. Matanya sayu
dan bibirnya pucat. Ia tampak sedang tidak enak badan. Tapi, apalah peduli
orang-orang yang melewatinya. Tiap dari mereka mencari kebahagiaan
masing-masing. Dan bahagia mereka adalah sebatas harta dan tahta bukan senyum
orang lain. Wanita itu pun begitu. Di tengah kebisuannya dan rasa sakit yang
sejak tadi ia coba tahan, ia juga cuma ingin harta. Ia butuh harta yang
berlimpah, berkeping-keping emas, berlembar-lembar uang kartal, dan banyak
angka nol setelah angka satu yang tertulis sehingga bisa ditukarkannya pada
bank dan menjadi uang dalam bentuk fisik. Semua itu kebutuhan dan bukan
keinginannya semata sebab ada perut yang menunggu untuk diberi makan di
rumahnya dan ada pula tubuh yang harus diurus di rumah sakit sesegera mungkin.
Namun, air yang sejak tadi berjatuhan
bergantian dan suara gemuruh petir yang bermunculan membuat rencananya hari itu
berjalan terhambat. Padahal semalam, ia sudah menyusun rencana itu sematang dan
sedetil mungkin agar tidak ada kekurangan pagi ini. Tapi, mau berkata apa sebab
ekspektasi dan realita adalah musuh bebuyutan.
Wanita itu mulai gelisah. Rambutnya
meneteskan air hujan yang sejak tadi menyemprot kearahnya. Tubuhnya menggigil
padahal dibalut tiga lapis pakaian dengan lengan yang panjang pula. Bibirnya
makin pucat dan matanya makin sayu. Tak satu pun ada yang peduli. Bahkan
seorang laki-laki yang baru saja datang untuk membuka toko yang emperannya digunakan
wanita itu untuk berteduh hanya memandang wanita itu sejenak lalu mengalihkan
pandangannya lagi dan mulai membuka tokonya tanpa suara. Bagi lelaki itu, ia
sudah terlalu baik dengan memutuskan untuk membiarkan wanita itu duduk berteduh
disana. Jadi, untuk apa ia harus basa basi dengan wanita itu. Apalagi, ia
seperti akan tumbang sebentar lagi.
Dan benar saja, wanita itu jatuh.
Tubuhnya yang ringkih menghantam trotoar yang makin ramai dilewati orang-orang.
Lelaki pemilik toko di dalam tokonya terdiam seakan-akan berpura-pura tidak
melihat. Dari wajahnya, ia sangat kesal sendiri. Ia seperti mengutuk dirinya
sendiri karena telah membiarkan wanita itu masih berteduh. Harusnya ia usir
saja wanita itu sehingga bukan tanggungannya lagi ketika ia tumbang seperti
itu.
Satu orang yang kebetulan lewat
panik dan berteriak minta tolong. Percuma saja sebab suaranya tenggelam ditelan
suara hujan yang riuh dan mengganggu. Orang tersebut mencoba mengguncangkan
tubuh wanita itu tapi tak ada tanda-tanda kehidupan. Ia makin berteriak kencang
hingga akhirnya salah satu mobil yang lewat berhenti setelah sekitar 8 mobil
sebelumnya melewati orang panik itu.
Wanita dan orang panik itu pergi
lalu lelaki pemilik toko barulah keluar. Ia melongo sambil memastikan mobil itu
sudah pergi jauh. Tak berapa lama, ia membersihkan lantai depan tokonya yang
terdapat bercak telapak kaki disitu. Saat ia membersihkan lantai tersebut, tiap
orang yang lewat mengintip sedikit toko itu, lebih tepatnya lantai itu.
Baru kutahu, ternyata lantai jauh
lebih menarik dibanding wanita tua yang sayu dan pucat.
No comments:
Post a Comment