Saturday, September 17, 2016

Pilu Terdalam dari Keluarga Langit


Awan berjalan pelan melangkah di depan matahari. Ia tersenyum karena sebentar lagi akan menikam bumi dengan guntur yang bertubi-tubi. Tinggal tunggu waktunya. Karena tak satu pun anak kecil itu bisa menolak kedatangan guntur itu. Bahkan mereka pun tak peduli. Mereka masih menatap serius cermin bergambar itu. Sesekali mereka melonjak kegirangan saat tertulis di kaca itu, ‘You Win’. Namun lalu murung dan mendumel tak karuan saat tulisan itu tersusun huruf yang berbeda, ‘Game Over’. Anak-anak itu juga ada yang terduduk di depan cermin bergambar yang ukurannya lebih besar. Ia masih memakai seragam sekolah. Untung jika cermin itu menayangkan gambar yang sesuai dengan usianya, kalau tidak sesuai, bisa-bisa berabe dan makin membuat hati keluarga langit sedih.
Dengan adanya cermin-cermin canggih itu, keluarga langit sudah sedih terlebih lagi matahari. Kini tak ada lagi anak kecil yang memakai sandal jepitnya dan berlari kegirangan walau dibasuh sengatan panas cahayanya. Angin pun sedih sebab kini tak ada lagi segerombolan anak-anak membawa layang-layang mereka ke padang rumput lalu memohon pada angin agar berhembus lebih kencang. Setidaknya, layang-layang mereka mampu lebih tinggi dari layang-layang lainnya. Atau beruntung jika layang-layang itu mampu menyenggol ranum putih pipi awan. Mungkin hingga merona merah dibuatnya.
Bukan cuma matahari dan awan yang sedih. Bintang dan Bulan pun murung dibuatnya. Kepiluan tanpa akhir menghujam-hujam jantungnya. Mereka tak habis pikir, kini tak nampak lagi ayah anak, sepasang kekasih muda, atau ibu anak tertidur di padang rumput memandang mereka. Atau anak-anak menatap jendelanya tanpa henti menunggu salah satu bintang meluncur di angkasa. Sekejap tangan anak itu saling tergenggam lalu untaian doa mengalun lembut di bibirnya.
Mereka malah sibuk di cermin-cermin bergambar itu. Sang ayah dan ibu mengetik. Sang anak-anak menatapnya tanpa berkedip. Tak ada yang menemaninya dan memberi penjelasan tentang gambar yang muncul. Tak ada juga yang melarangnya untuk mengganti ke gambar yang sesuai usianya. Mereka sibuk sendiri-sendiri dengan cermin-cermin bergambar itu. Yang ukurannya hanya 8x6 cm hingga yang ber-inchi.
Pemandangan yang dirindukan keluarga langit kian langka. Amat langka. Mungkin jika bisa dijual akan mahal harganya, akan ada berpuluh milyader yang menawarnya. Saking jarangnya. Saking tidak pernahnya.
Diam-diam, awan yang sejak tadi tersenyum pada matahari malah berbahagia. Karenanya dan guntur, cermin dengan gambar bergerak itu tiba-tiba terserang ribuan semut, pun versi lebih kecilnya akan sulit jaringan dan tidak berguna lagi.
Seakan awan dan guntur adalah pahlawan kesiangan matahari, angin, bulan, dan bintang, awan dan guntur tertawa-tawa bahagia. Matahari, angin, bulan, dan bintang menatap mereka ikut kegirangan. Anak-anak itu mulai beranjak dari tempatnya duduk tanpa berkedip, mulai menaruh cermin bergambar yang ukurannya kecil, anak-anak mematikan kedua cermin bodoh itu, dan setidaknya mengganti seragam sekolahnya.
Ada pula anak-anak yang mulai merapikan selimut dan alas kasurnya yang berantakan, mulai membuka satu per satu buku yang hampir berdebu terpampang di meja belajarnya. Bahkan ada pula yang mulai melirik saudara kandungnya, memberanikan diri mengucap salam, lalu mengajak bermain petak umpet bersama.
Awan dan guntur mengirim hujan pada rumah-rumah dan sekolah-sekolah. Awan dan guntur mengganggu aktivitas jaringan yang jika tergambar garis-garisnya ruwet memenuhi kota. Walau matahari bersembunyi dibalik keduanya, walau angin harus berhembus lebih kencang lagi, dan bulan juga bintang masih bersembunyi di sisi bumi lainnya, mereka semua tetap bersyukur. Bahwa setidaknya, awan dan guntur mampu menyatukan anak Adam itu lagi. Anak-anak di belahan bumi manapun kembali tertawa riang karena hal yang nyata pun kembali sedih menangis meronta-ronta karena hal yang bisa dicapai indera. Bukan maya seperti yang matahari pandang selama ini di cermin-cermin bergambar itu.
Masa agaknya bertransformasi. Abad demi abad pun terlewati. Perkembangan zaman tak dapat disudahi. Karena manusia terus berfikir agar kebutuhannya terpenuhi. Matahari, angin, bulan, bintang, awan, dan guntur yang hidup lebih lama dari kita mungkin menyadari betapa berbedanya kita seiring waktu berlari. Mungkin mereka bersedih atau bisa jadi berbahagia dan tak peduli. Tapi, waktu tentulah sedih hati. Karena semakin lama, kemalasan membelenggu, kesia-siaan semakin nyata rupanya, dan waktu pun hanyalah barang murahan yang bisa ditawar siapa saja.
Ini baru soal apa yang menatap kita dari atas. Belum lagi kuceritakan bagaimana tanggapan pohon, bunga, daun, tanah, semak belukar, air, pasir, dan lainnya terhadap kebodohan tingkah manusia jaman ini. Ah, mungkin lebih pahit dan menyakitkan dari ini. Tapi, tak perlulah aku susah merangkai kata-katanya. Toh, kalau masih punya nurani, pasti kita akan bergerak sebelum diperintah, pasti akan berubah sebelum diminta berganti peran. Kini tinggal memilih. Mau mengecewakan atau membahagiakan. 

No comments:

Post a Comment